Ngeblog sambil ngemil telur puyuh, nunggu suami pulang kantor, hemmm nikmatnya hidup. Hehe, hidup memang harus dinikmati bukan? Apalagi setelah menikah, hidup sangat layak untuk dinikmati.Oke, telur puyuh. Mengapa telur puyuh? Hem, sejak menjalani aktifitas PP alias Pulang Pergi (Surabaya-Lamongan) via bus, aku jatuh cinta lagi dengan telur puyuh.
Mengapa jatuh cinta lagi? Iya, lagi. Karena sejak kuliah, saya sudah vakum alias berhenti mengkonsumsi telur puyuh. Berasa tiba-tiba ga doyan dan bukan lagi menjadi makanan favorit. Padahal sejak kecil (masa paling kecil yang sudah mulai bisa keinget), mmm kalau ga salah sejak sebelum masuk TK deh, telur puyuh adalah jajanan favoritku. Sebelum masa itu, aku tak inget apakah sudah mulai kenal dengan telur puyuh atau tidak.
Beda dengan telur ayam, telur bebek, telur asin, saya kurang berminat jika untuk fungsi ngemil. Telur puyuh tidak berasa amis dan tidak membosankan. Mungkin karena bentuknya yang kecil, berasa seperti camilan, atau juga karena warna kuning telurnya tidak terlalu mencolok. Wes pokoknya telur puyuh I like it.
Mengapa Bus? Ya karena di sanalah biasanya ada penjal telur puyuh keliling dalam bus. Bus yang setia mengantarkanku menuju rumahku surgaku itu tak jarang dimasuki pedagang keliling. Hanya telur puyuh yang menyihir perhatianku. Berawal dari rasa lapar, akhirnya menjadi kebiasaan yang ku rindukan. Setiap masuk bus, saya selalu menanti si telur puyuh lewat. Read the rest of this entry »