Kisah Mawapres 2008

Posted: February 11, 2009 in umum

Tomboy, pinter, cerdas, itulah dia, Resti Afiadinie. Kami sering bersama selama di SMA, dia sahabat sekaligus patnerku dalam karya tulis Ilmiah. Setiap ada lomba, kami selalu maju dalam satu tim dengan tujuan yang sama. KAmi begitu kompak dalam berkompetisi demi meraih sang juara. PErbedaan yang ada adalah pelengkap kami. Ya, dialah sanga MAWAPRES ITS tahun 2008. Juara 1 Mawapres tingkat institut ini, kemudian berjuang di kancah nasional melawan mawapres-mawapres dari universitas-universitas yang terpilih di seluruh Indonesia. 

Dari 15 finalis yang ada, Alhadulillah, ternyata masih  belum bisa menjadi juara 1.  Namun, hal ini tetap disyukuri oleh Resti Afiadinie. Gadis berdarah Lamongan ini bersyukur bisa mewakili ITS. Sungguh hal yang tak disangka bisa menjadi duta ITS. Awalnya dia tidak yakin dengan ajang kompetisi mawapres ini. Namun keinginan untuk membuat sang bunda, ayah, dan kakaknya tersenyum bangga, akhirnya dia memberanikan diri, Jadilah dia maju ke tingkat jurusan. Saingan yang ada di jurusan adalau mereka para aktvis HIMA dan BEM. Sedangakan dia sendiri adalah mahasiswa biasa yang tidak terlalu aktif dalam kegiatan organisasi seperti itu. Kiprahnya di dalam dunia organisasi bisa dibilang jauh dari teman-teman calon mawapres yang lain.

Namun, faktor lain telah mengantarkan dia menjadi wakil jurusan TEknik KImia bersama 2 orang wakil lainnya untuk menuju medan perang di tingkat Institut. Kegiatannya yang bisa dibilang seabrek dalam dunia keilmiahan, ternyata menjadi modal yang sangat kuat. Psikotes yang diadakan di Institut, diikutinya begitu saja tanpa persiapan yang matang. MErasa hasil tidak maksimal, akhirnya dia pasrah dengan apapun hasilnya. Namun siapa yang menyangka, ternyata berdasarkan kabar-kabar yang didengan entah dari mana sumber jelasnya, hasil psikotesnya mendapat predikat “santerna”, nilai tertinggi.

Selepas perjalanan di psikotes, akhirnya presentasi karya tulispun tiba. PEresentasi dilakukan dalam dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. “Bahasa Inggrisku begitu buruk, dan aku “bonek” alias “bondo nekat” melakukan presentasi itu, tutur si Resti. Yang pasti, dia ngomong dan menjawab apa yang dewan juri tanyakan meskipun terkadang bingung. DAn yang paling memukau adalah presentasi dengan mengggunakan Bahasa Indonesia. Dewan juri tampak begitu puas dengan presentasi yang dia paparkan. Singkat cerita, setelah melewati proses penilaian, terpilihlah dia menjadi sang Juara untuk menjadi duta besar ITS menuju kompetisi nasional. Inti dari perjuangan menjadi seorang mawapres, menurut Resti adalah “APA ADANYA”. Jadi, menjadi diri sendiri, jujur dan tidak direkayasa, itulah bekal menjadi seorang pemenang.

Comments
  1. Resti says:

    Makasih ya, sobat…
    Kamu, orang bisa tahu aku
    Jangan pernah lupakan tali persaudaraan yang telah lama kita jalin
    Jarak dan waktu tidak lagi jadi halangan
    Do’akan aku selalu bisa memperbaiki diri
    Masih banyak yang harus aku cari

  2. saling mendoakan…semoga kita bisa menjadi lebih baik🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s