Kesetiannya, Telah Aku Sia-Siakan

Posted: July 30, 2010 in Kisah

Hari itu, aku masih menemaninya telfon pada saat jam makannya tiba. Dia sempat menangis karena sakitnya. Nafsu makannya sudah semakin berkurang. Dan aku hanya ingin, hanya ingin membuatnya tersenyum dalam sakitnya. Penyakit yang sangat langka, yang hanya menjangkit satu orang dari 1000 orang yang ada. Riset dunia membuktikan itu, dan dokter medis belum menemukan obat yang mampu menyembuhkannya. Aku tidak menyangka, ini terjadi pada sahabatku, sahabat yang hanya pernah aku temui satu kali tatap muka seumur hidupku. Dan pertemuan itu sudah membuatku jatuh hati padanya. Namun, aku hendak menjadikannya sahabat saja, hingga aku mampu meminangnya dan meraih ke pelaminan.

Tanpa kata pertanda, tanpa maksud terselubung, kami sama-sama tahu. Aku mencintainya lebih dari sahabat, dan dia juga menerima aku sebagai sosok yang spesial di hatinya. Dia adalah wanita yang lembut hati, tutur, dan perilakunya. Pertemuan pertama dan tak kusangka sebagai pertemuan terakhir itu, menjadi awal mula komunikasi kami. Jakarta ini, tempatku menuntut ilmu, membuat aku hanya bisa mengirimkan surat (yang langka dilakukan), telephon, dan sms. Keluarganya ibarat keluarga keduaku, ayah bundanya adalah ayah bunda keduaku. Kami begitu dekat, begitu akrab meskipun jarak sangat jauh. Jawa timur dan Jakarta. Dua pulau saksi kesetiaanya.

Ketika itu, dia memberikan pertanda bahwa segera mengajak kami menghalalkan hubungan tali kasih kami. Namun, aku menolaknya. Ya, aku menolaknya. Aku bingung saat itu harus menegaskan bagimana. Aku ingin menyelesaikan studiku, dan aku bermaksud meminangnya setelah itu. Penolakanku bukan berarti aku tidak menerimanya, namun aku takut menerima dia dalam ikatan yang tidak disukai oleh agama. Oleh sebab itu, aku berjanji pada diriku sendiri, akan segera menemuinya saat studiku selesai.

Kami masih berkomunikasi baik, seperti biasa. Bahkan hingga dia terbaring lemah di rumah sakit, aku belum bisa menjenguknya. Aku menghiburnya melalui telephon. Sekedar sejenak menghilangkan laranya, menyimpulkan senyum di bibirnya, adalah kebahagiaan tersendiri. Hingga siang itu, aku masih bisa mendengar suaranya.

Innalillahi wainnailaihi raji’un. Keesokan harinya, kabar mengejutkan datang. Wanita yang begitu mulia dihatiku itu, telah pergi untuk selamanya. Hanya menyisakan kesetiaan dan kenangan manis yang singkat dalam hatiku. Aku bahkan belum sempat memberikan jawaban dan kepastian padanya. Aku masih membuatnya merasa aku tidak menerima dia. Aku membuatnya merasa dirinya bukan wanita yang tepat untukku. Aku telah menyia-nyiakan kesetiaan seorang wanita yang sudah teruji itu. Karena sesungguhnya sebaik-baik jawaban dari seorang laki-laki jika ada seorang wanita yang terbukti setia, adalah jawaban menerima.

Ya Allah, dalam catatan kecil yang ditemukan oleh Bundanya, tertulis, “Kakak, maafkan aku ya, aku belum bisa menjadi wanita yang seperti kamu harapkan, semoga kakak mendapatkan yang lebih baik.”

Padahal, selama ini, aku tidak pernah merasa ada yang kurang darinya. Dia sungguh istimewa dan dialah yang aku cari. Astaghfirullahal adzim….Kini dia hanya tinggal nama dan kenangan yang tak akan pernah terhapuskan oleh apapun. Semoga engkau bahagia di sisiNya….Amien.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s