Tanah Abang Berubah Menjadi Lautan Manusia

Posted: August 7, 2010 in Cerita-cerita

Sambutan yang LUAR BIASA. Tanah Abang berubah menjadi lautan manusia. Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, begitulah kiasan yang tepat untuk pusat perbelanjaan besar di Jakarta ini. Entah motiv sebagai penjual, motiv ibu-ibu yang berbelanja untuk keperluan keluarga, motiv anak rantau yang ingin membeli oleh-oleh untuk keluarga di kampung, atau mereka yang mengais rejeki untuk sekedar menawarkan jasa kirim, angkat barang, dan lain sebagainya.

Aku pikir, ini saat yang tepat untuk jauh-jauh hari sebelum memulai aktifitas puas. Belanja terlebih dahulu. Dengan harapan tidak terlalu ramai pembeli, tidak berdesak-desakkan, harga tidak terlalu melambung tinggi. Semuanya salah. Menurutku, masalah harga sama saja, mau beli sekarang atau nanti, karena penjual pasti tahu pembeli yang bertransaksi ini pasti untuk kebutuhan lebaran. Masalah ramai dan berdesak-desakkan jangan ditanya lagi. Semua jauh dari dugaan. Jalanan beberapa meter dari Tanah Abang sudah dipenuhi dengan hilir mudik kendaraan, para pejalan kaki yang tidak mau menggunakan jembatan penyeberangan untuk melintasi jalan, para pengguna motor yang ingin menang sendiri. Macet total, hingga supir angkot memutuskan menurunkan penumpang jauh dari lokasi karena tidak ada celah untuk masuk.

OMG!!!! Panas, gerah, polusi, dan sangat melelahkan. Berharap sesampai di lokasi bisa menghirup suasana dinginnya AC. Tapi, jangankan AC, celah untuk jalan saja tidak bisa. Jalan merambat seperti semut berjajaran. Ada juga yang mau menang sendiri, main serobot, dan mendorong. Sekitar jam 1, sudah banyak yang teler entah menunggu jemputan, menunggu barang yang dibeli, atau apapun itu. Mereka pada duduk dan memejamkan mata memenuhi pintu utama. Tidak ada sedikitpun celah yang kosong. Eskalator penuh, apalagi lift. Huft. Benar-benar memusingkan. Di tambah cuaca kurang mendukung, hujan turun, banyak orang tidak bisa meninggalkan tempat karena hujan. Alhasil, pintu utama makin penuh dan penuh. Begitupula dengan kendaraan umum, taxi, kopaja, bajaj, semua penuh dan berdesakan. Pemandangan yang sangat menyesakkan mata.

Tanah Abang yang memang asalnya ramai, kini bukan ramai lagi, namun bisa dibayangkan jika Gedung itu bisa berteriak, dia akan menjerit karena terlalu berat beban para manusia yang mengunjunginya. Dan pastinya gedung itu memiliki beban maximum yang bisa dipikul. Dan jika melebihi kuota, bisa jadi gedung berlautan manusia itu akan roboh. Hoho…imajinasi yang mengerikan.

Benar-benar, jika hanya memberli kurang dari satu lusin, sebaiknya jangan Tanah Abang sasarannya. Cari tempat lain yang lebih leluasa dan manusiawi untuk berbelanja dan bikin mata segar. Usahakan gunakan kendaraan pribadi dan pastikan menguasai lokasi parkir dan dapat mengemudi dengan baik. Perhitungkan jam dan hari untuk berkunjung ke tempat ini. Jika baru pertama berkunjug, usahakan ajak teman yang sudah hafal dengan denah lokasi.

Lebih dari sekedar meriah penyambutan menjelang bulan puasa ini. Semoga kemeriahan ini senantiasa menjadi pertanda betapa semangatnya kita dalam menjalani ibadah puasa kelak. Mudah-mudahan kita termasuk golongan orang-orang yang berbahagia menyambut datangnya bulan suci Ramadhan yang penuh Maghfirah. Amien….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s