Jakartaq macet Total

Posted: October 27, 2010 in JakartaQ

Senin, 25 Oktober 2010..

Jakarta sebagai pusat Ibu kota sekaligus sebagai kota yang banyak diincar oleh kalangan pencari nafkah. Banyak orang datang dan merantau ke Jakarta untuk mengadu nasib. Akibatnya, hari demi hari Ibu kota ini semakin padat saja. Padat gedungnya, padat kendaraaanya, padat lalu lintasnya, padat aktifitasnya, dan padat manusianya. Ramalan lalu lintas Jakarta akan lumpul total pada tahun 2011 mungkin menjadi wacana yang mencekam. Sebagai sentral kota yang menawarkan sejuta peluang yang menjanjikan, sebenarnya Jakarta sudah terlalu penuh dengan beban sehari-hari yang tak kunjung memberikan kedamaian. Dan inilah dua haru beruturut-turut Jakarta menyajikan Fakta yang sangat menyesakkan.

Hujan terus mengguyur kota yang bejibun dengan metromini, mobil pribadi, motor, busway, taxi, dan lain sebagainya. Fenomena hujan lebat ini selalu berakhir dengan kemacetan total. Jalan Jenderal Sudirman adalah saksi mata pemandangan yang penuh dengan rentetan manusia dan alat transportasi. Jalan ini memang sentral dari Jakarta yang tak pernah sepi dengan lalu lalang orang yang bekerja di kantor. Rentetan perkantoran, mall, apartemen, restoran, hotel, hampir memnuhi deretan Jalan ini. Derasnya hujan menambah keruh deretan penderitaan yang dialami oleh Jalan ini. Jalan licin, jam pulang kerja, membuat kondisi macet total. Perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh hanya dalam 30 menit, kini harus ditebus dengan 2-5 jam. 

Kendaraan roda dua ingin menang sendiri. Merampas hak pejalan kaki, menanjaki trotoar yang rawan akan lubang-lubang dan genangan air. Deretan mobil yang tak lebih cepat dari jalannnya pasukan semut. Asap mengepul di sela guyuran sisa gerimis, klakson berbunyi di sana-sini. Halte penuh dengan tumpukan manusia yang berteduh, menunggu bus, metromini, dan lain sebagainya. Banyak taxi yang memilih untuk tidak mendapatkan uan dari pada harus membawa penumpang terjebak dalam kemacetan. Jembatan penyeberangan sudah sangat sesak. Rentetan manusia yang memenuhi ujung lokel pembelian tiket bussway hingga ujung jembatan. Sungguh sangat padat.

Genangan air yang tak dihiraukan lagi oleh para pengemudi menambah indahnya pemandangan sore menjelang petang. Bising, polusi, hujan, bising. Semuanya menjadi satu. Tak ada lagi yang bsia disalahkan. Tak ada lagi yang perlu disesali. Inilah realita Jakarta. Belum lagi kondisi banjir di beberapa kawasan, yang menambah rentetan cerita kota Jakarta. Beruntunglah orang yang hanya butuh jalan kaki untuk menempuh tempat kerja atau pulang ke rumah.

Yah, suka duka Jakarta. Semua menjadi pelajaran yang banyak makna. Jakarta adalah kota dengan sejuta peluang, namun kedamaian dan ketenangan tidak akan pernah terasa di kota ini. Semua tergantung kita, mau menambah sesak kota ini atau mencari peluang di tempat lain. Yang pasti, Jakarta tetaplah Jakarta yang macet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s