Apa yang Aku dapat dari Jakarta?

Posted: November 5, 2010 in JakartaQ

Sudah hampir setahun rasanya aku mendiami ibu kota Jakarta ini. Tak terasa sebentar lagi aku akan meninggalkannya. Jakarta yang tak ada istimewanya, bukan seperti Surabaya kota yang penuh sejuta kenangan. Kehadiranku ke Jakarta memang bukan sebuah impian. Namun adalah hal yang sangat perlu disyukuri. Pengalaman bernafas di Jakarta membuatku lebih mengerti betapa berartinya sebuah keluarga.

Aku berharap, di Jakarta aku tidak akan kehilangan teman, sahabat, keluarga. Tapi banyak kejadian yang sungguh tak aku rencanakan, dan bahkan tak aku harapkan. Seseorang yang begitu aku sayangi, sebagaimana orang tuaku sendiri, harus pergi meninggalkan aku, dan tanpa aku bisa menciumnya untuk terakhir kalinya. Hembusan nafas terakhirnya tanpa aku di sampingnya. Jarak dan waktu tak mungkin membuatku mengantarkannya ke tempat peristirahatan terakhirya. Hal yang sangat aku sesali…..Aku tak bisa merawatnya di kala sakitnya, tak bisa menjaganya di kala rintihnya, tak bisa menemani saat ajal menjemputnya..Rasa sesal, kecewa, sedih, berbaur dan entah sampai kapan aku bisa memaafkan diri ini….Bahkan aku tetap bersih keras menyongsong Jakarta ini, dalam keadaan parah sakitnya…Sungguh penyesalan terdalamku. Tuhan, ampuni aku. Dan berilah beliau tempat yang mulia di sampingMu.

Masa-masa penting adekku untuk menentukan jenjang pendidikannya. Aku hanya bisa dari jauh memberikan dukungan dan arahan. Masa-masa dia begitu membutuhkan aku, aku tak ada untuknya. Saat dia terjatuh dan butuh sandaranku, aku hanya bisa berkata sabarlah. Saat sendiri dalam ketakutannya, aku hanya bisa berdoa untuknya. Dan kini, masihkah ada kesempatanku untuk menebus semuanya?

Yah Jakarta. Kota yang aku harapkan menjadi kota kenangan kedua setelah Surabaya, namun hanya membawa segelumit kenangan buruk yang ingin sekali aku memutar waktu. Harapan mengulang kembali kenangan Surabaya, bersamanya kembali, hanyalah sekedar harapan yang tak pernah terjadi. Jauhnya jarak, tak mampu menandingi betapa jauhnya hati. Jika boleh memilih, dekat di mata dan di hati. Namun jika tidak bisa, aku memilih dekat dihati, jauh di mata. Namun ternyata tak bisa memilih. Rupanya jauh di mata dan jauh di hati, sungguh sangat menyakitkan.

Walau bagaimana tak seindah yang ku bayangkan, Jakarta tetaplah kota yang pernah aku singgahi, dan keluarga kecilku di sini, tak kan pernah ku lupa. Kota keras yang penuh tantangan ini, akan selalu menjadi bagian dari perjalanan, yang tak kan pernah bisa terhapuskan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s