“Tahun Baru ngapain? Acara apa? Mau kemana? Sama siapa? Di mana?

Posted: December 31, 2010 in JakartaQ

Selamat pagi di hari terakhir tahun 2010. Masehi memang menjadi tahun yang tidak bisa lepas dengan keseharian kita. Di akta kelahiran, ijazah, raport sekolah, tanggal-tanggal penting, kapan mulai sekolah, kapan lulus, kapan ujian, kapan mulai bekerja, kapan menikah, bahkan sampai hari kematian pun, semuanya tercatat dalam penanggalan Masehi.

Thats way, mungkin yang menyebabkan  nuansa akhir tahun masehi, akhir tahun Hijriyah, atau akhir tahun Jawa sekalipun memiliki nuansa yang berbeda-beda. Bukan bermaksud meng-anak emaskan tahun Masehi, namun nuansa penutup Masehi jauh lebih di semarak dan digemakan.

Tidak ada yang salah, itu hanya sekedar permasalah budaya dan kebiasaan, “menurut saya”. Saya menghormati mereka yang begitu kerasnya melakukan evaluasi di akhir tahun baik Masehi maupun Hijriyah dengan cara mereka sendiri. Mungkin ada yang berdiam di rumah, memperbanyak ibadah, evaluasi diri, melakukan list daftar kesuksesan dan target akhir tahun, atau bahkan mereka yang mengunjungi atau berkumpul di sebuah tempat perayaan.

Contohnya saja ajang spektakuler yang dilakukan oleh Master Limbad.  Aksi yang dilakukan tersebut sangat berbahaya dan taruhannya adalah Keselamatan. Menarik truk dengan berat kepala hingga 10 Ton dengan kemampuan menarik beban sebesar 80 ton. Beban yang seharusnya dilakukan oleh minimal 25 orang, kini Master Limbad melakukannya seorang diri, dengan hanya menggunakan 3 bagian dari tubuhnya yaitu lengan, leher dan rambut. Berawal dari Gelora Bung Karno (sebelah kanan kantor, tempat di mana sehari-hari saya🙂 ) , menuju Bunderan HI, dan berlanjut hingga ke Monas (Monumen Nasional), hingga berujung di RCTI. Amazing, right? Karena aksi yang demikian berbahaya, maka RCTI memberikan asuransi keselamatan sebesar 5 M.

Begitulah salah satu gambaran nuansa di Jakarta. Itu hanya satu bagian dari sekian banyak aktifitas memukau lainnya.

Saya sendiri, selalu mendapatkan pertanyaan, “Tahun Baru ngapain?  Acara apa? Mau kemana? Sama siapa? Di mana?. Itulah pertanyaan umum yang kerap di dengar ketika akhir tahun Masehi. Bagi saya, tidak ada yang spesial di hari itu. Saya cenderung malas untuk ke tempat perayaan karena pasti macet dan sangat ramai.Saya cenderung berdiam di rumah. Melihat keramaian dari acara TV, atau sekedar menyimak rentetan suara kembang api, dan mendengar cerita teman-teman bagaimana nuansa di luar sana.

Paling mentok, mungkin ada acara bakar-bakar ikan, dan sejenisnya.🙂. Just Simple for Me.

Tahun ini, akhir tahun saya habiskan di Jakarta untuk pertama kalinya. Namun di manapun kaki berpijak, sederetan pertanyaan rutin masih tetap saja ada. Dan dimanapun saya, tetap saya. Sekalipun di Jakarta, kota metropolitan yang mungkin sangat disayangkan jika kita hanya berdiam di rumah kos, misalnya. Bagi saya tidak ada yang perlu disayangkan. Pergi kemana saja boleh, yang penting tidak membahayakan diri sendiri.

Lalu apa rencana saya untuk mengisi malam tahun baru ? We will see..

Comments
  1. Molly says:

    🙂 dimanapun aku berpijak pun pertanyaan itu jg ada…
    hehhehe

    tapi boro2 tahun baru, ulang tahun saja aku kurang peduli untuk dirayain..hehhehe
    *ga ada yg nanya ya ;p

    • ruktin says:

      hehe, karena memang nothing spesial mbak di masa itu..saat2 spesial adalah bukan harinya, tapi isinya ..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s