Saya Hanya Cukup Didengarkan…

Posted: February 23, 2011 in CINTA, Tentang Pria, Tentang Wanita

Saya (wanita) hanya cukup ingin didengarkan dan sedikit diperhatikan. Iya, cukup dengarkan saja, cukup berikan telinga Anda untuk menampung semua keluh kesahnya. Cukup berikan pundak Anda untuk sejenak menjadi sandarannya. Begitulah tutur singkatnya kala itu.

Sebuah riset sederhana ala eRHa (baca : RH) membuktikan bahwa begitulah wanita. Terkadang mereka harus berceloteh ‘ngalur ngidul’ hanya untuk sekedar mendapatkan prestasi ‘lega’. Lega karena merasa bebannya terbagi, lega karena merasa puas sudah mengeluarkan semua unek-unek yang menjadikan penat, lega karena si sebal sudah dilempar jauh-jauh dari hatinya, lega karena ada secercah senyum simpul yang terurai.

Ketika dia (wanita) berkata A, dia terkadang ingin jawaban baik dari Anda (laki-laki). Namun pada saat jawaban baik itu Anda berikan, yang ada hanyalah ketidakpercayaannya akan jawaban Anda. Lebih tepatnya bukan tidak percaya ternyata, tetapi cenderung tersipu malu dan JaIm (Jaga Image). Tapi sebaliknya ketika jawaban kurang menyenangkan, padahal maksud Anda adalah berkata jujur apa adanya atau sedikit bercanda, maka jangan heran, bibir manyun cemberut dan kerutan di keningnya menjadi pemandangan kurang menyenangkan. Contoh mudahnya begini,

“Pa, coba deh lihat rambut baru mama, bagus kan?,
“ Iya ma, bagus banget, mama tambah cantik.

“ Ah papa nggombal, bohong banget….

Namun ketika Anda memberi jawaban begini :

“Hem, kayaknya mama lebih cocok rambut panjang, lain kali ndak usah model begitu ya”
“Gimana sih papa, mama begini kan untuk menyenangkan papa juga, kurang bagus di mananya?

Wwkwkkwkw, itu contoh gampang, dan masih banyak lagi kejadian-kejadian sederhana yang seharusnya tidak penting untuk diperdebatkan, namun itulah wanita.

Lalu apa yang harus Anda lakukan sebagai laki-laki?  Dengarkan, dan cukup berikan apresiasi yang aman saja, senyum, dan jangan terlalu terlihat menggombal. Misalnya, rambut mama bagus, mama kelihatan beda (padahal dalam hati : beda alias lebih jelek, wkwkw), tapi kayaknya bagusan yang sebelumnya deh ma, mungkin karena belum terbiasa lihat kali ya, oke sekrang kita ngeteh yuk!!!…. Hehe, ngaco, kurang lebihnya begitulah…

Beranjak menuju kasus sedikit berat.

Kisah. Suatu hari seorang wanita datang kepada saya. Dia berkeluh kesah karena sikap pasangannya yang dia rasa kurang perhatian, kurang sensitif dengan keadaaan dirinya atau apa-apa yang sedang dia rasakan. Kesibukan pasangannya di tempat kerja, membuat seminggu berasa hanya ada dua hari untuknya, sabtu dan minggu. Senin hingga Jumat bagaikan hari yang tidak pernah ada dalam hubungan mereka.

Kondisi ini larut dan larut, hingga sampailah pada sebuah rasa ragu dan tidak percaya kepada pasangannya, apakah benar pasangan saya ini bener-bener sayang kepada saya?. Dia bahkan tidak pernah menanyakan kondisi saya, saya sakit dia tidak tahu, saya sedih dia tidak pernah melihat, saya punya masalah, dia seakan tidak peduli. Padahal saya selalu berusaha ada untuk dia, ketika dia butuh, ketika dia mengeluh, dan saya selalu berusaha mengerti apapun kondisinya. Apakah hanya saya yang harus selalu perhatian dengannya? Saya wanita biasa, juga butuh diperhatikan, butuk untuk sekedar ditanyain, gmn di kantor hari ini? Bagaimana kabar ibu? sehat?

Saya hanya mendengarkan, wanita cantik itu saya biarkan bercerita hingga selesai, saya biarkan dia menumpahkan semua untuk menemukan titik sebenarnya apa yang dia cari. Hingga tibalah saya yang angkat bicara.

Apakah Sabtu-Minggu yang selalu Anda (wanita) lewati dengan pasangan anda, terasa ada yang kurang dari pasangan Anda, perhatiannya, sandarannya untuk Anda? Jawabannya, “tidak ada. Bahkan Sabtu Minggu itu semua terlihat indah dan baik-baik saja. Sempurna.

Oke, satu poin, berarti tidak ada masalah di laki-laki. Saya kembali bertanya, sejauh mana Anda mengerti kesibukan, load, tanggung jawab, beban pasangan Anda dalam pekerjaanya, sehingga Senin-Jumat itu tersasa tak pernah ada untuk Anda? Dan ternyata di sinilah poin pentingnya. Mengerti belum tentu memahami. Kasat mata seseorang mengerti kesibukan, beban dan segala macam dari pasangannya, tapi apakah sudah sampai taraf memahami? Betapa pentingnya komunikasi dua arah yang harus terjadi dalam sebuah hubungan. Karena menyatukan dua kepala, dua pemikiran, tidaklah mudah.

Wanita memang ingin dimengerti, dan laki-laki juga butuh dipahami. Kesibukan kerja dan seabrek aktifitas seseorang memang seharusnya tidak menjadi alasan untuk buruknya sebuah komunikasi. Sang laki-laki tersebut di atas, memang seharusnya tidak terbabi buta dengan pekerjaan yang seolah membelenggu. Luangkanlah sedikit bentuk kominikasi ringan, apapun bentuknya yang pada intinya tujuan untuk mengadakan hari Senin-Jumat yang tersasa tak pernah ada itu. Cukuplah sedikit sensitif, atau buatlah kesepakatan untuk tidak membahas masalah yang berat selama Senin-Jumat. Tetapi bukan berarti semuanya harus menunggu Sabtu-Minggu. Apakah orang sakit harus menunggu Sabtu Minggu?

Jangan terlalu kaku, dan jangan terlalu berlebihan. Komunikasi ringan, sekedar mendengarkan, dan sekedarlah sensitif, mencoba merasakan apa yang dirasakan pasangan, itu penting. Wanita bisa saja sekuat baja, tapi suatu saat dia juga bisa menjadi lemah, butuh sandaran, butuh didengarkan saja, dan butuh diperhatikan. Laki-laki kadang betapa susahnya multitasking, mendengarkan pada saat capek dan penat (rasanya ingin tidur saja), tapi bukan berarti tidak bisa.

Laki-laki yang hebat karena wanita yang sederhana dan bersahaja di belakangnya, dan sebaliknya. Semuanya harus dibicarakan baik-baik, dan betapa pentingnya sebuah keterbukaan dan kejujuran satu dan yang lainnya. Diimbangi saling memahami dan tidak menuruti ego masing-masing.

Singkat cerita, sang wanita lega. Padahal hanya curcol ke saya, dan saya cukup bilang, kamu beruntung memilikinya. Alhasil, tidak jadilah si keraguan tadi merajalela. Pulanglah si wanita dengan senyum sumringah dan saya yakin bahwa semakin cintanya dia kepada pasangannya. J

Bagi para wanita, kita harus ada pada saat dia jatuh dan jayanya. Kekuatan kita adalah semangat luar biasa untuknya (pasangan hidup kita, imam kita).

Bagi para laki-laki, sediktilah sensitif dengan perasaan wanita yang lembut itu, dan ijinkan hanya kepadamu dia berkeluh kesah (baca : bercerita, bukan mengeluh), dan bukan kepada orang lain.

NB : Semuanya kembali ke pribadi masing-masing. Kisah di atas hanya cuplikan kecil dari sejuta kisah di dunia ini.

Comments
  1. debby says:

    Wuahahaa like this artikel very much.tp smua kdg jg g bs semudah yg diungkapkan.adakalanya laki2 menganggap wanita yg seperti itu aneh,berbeda dgn dunianya.yes,woman from venus and man from mars.of course keduanya berbeda.tp berbeda bkn brarti g bs slg membahagiakan?🙂

  2. Ryani says:

    iya betul mbak🙂. Jadi tambah lagi, menyatukan dua dunia yang berbeda🙂. Tetep bisa saling membahagiakan🙂. Smoga mbak deby berbahagia dengan pasangan hidup🙂

  3. xsupri05 says:

    nice read.. thank you.. ^^

  4. Evita says:

    semua wanita pasti pernah mengalami hal ini..
    menyatukan dual kepala dan dua pemikiran, memanglah tidak mudah..
    harus ada saling pengertian diantara keduanya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s