Gadis Itu Tertipu di Kampung Rambutan

Posted: April 19, 2011 in JakartaQ, Kisah

How to face JAKARTA?
Merinding, takut, emosi, wes campur aduk jadi satu saat mendengar kata “Aku ditipu”. Lho, kok bisa, kenapa, piye toh? Pembicaraan singkat ditelpon itu percuma saja, tak akan bisa menyelesaikan dan membantu teman saya yang sedang dalam ketakutan dan bingungnya. Menjadi korban penipuan, dan akhirnya harus menempuh jalan dengan taxi untuk berbalik dari tempat yang dituju, kembali ke rumah kos. Ingin rasanya dia marah, menangis, ngamuk, tapi inilah ending dari perjalanan singkatnya itu, menjadi korban penipuan di salah satu terminal di Jakarta, KAMPUNG RAMBUTAN.

Kampung Rambutan, saya sendiri belum pernah menjamah daerah itu, seperti apa bentuknya, ramainya, orang-orangnya, dan lain sebagainya. Hanya sering mendengar teman sesekali menyebut dan bercerita tentang rute yang melibatkan nama Kampung Rambutan. Dari cerita dan gambaran yang ada, kurang lebihnya Kampung Rambutan adalah sebuah terminal di Jakarta, di mana di sana banyak sekali bus yang mangkal, angkot, metromini, ojek, dan lain sebagainya. Orang-orang campur aduk menjadi satu, tak bisa dibedakan mana calon penumpang, sopir, calo, perampok, penjahat, penipu. Tak bisa lagi dipisahkan mana orang yang baik, mana orang yang jahat. Bayangkan, setiap mata memandang ke arah penumpang dengan pandangan yang sungguh tidak nyaman, menakutkan, tajam, namun membuat penumpang terutama yang baru berkenalan dengan Kampung Rambutan, menjadi tidak berkutik dan ujung-ujungnya memilih terhanyut di dalam skenario terminal rusuh itu.

HARI ini, sebuah kisah dari seorang teman kos, mudah-mudahan bisa diambil hikmah dan pelajaran berharganya untuk kita semua agar lebih berhati-hati, waspada, menjaga diri, dan tegas serta mampu menjadi peran dalam kondisi apapun. Seorang gadis berusia kurang lebih 24 tahun, hendak pulang kampung dari Jakarta menuju Jawa Tengah. Ini kali pertama rute barunya melalui Kampung Rambutan. Berharap dengan naik bus di terminal ini, akan mendapatkan rute lebih pendek dan efisien. Sampailah ia pada seorang wanita berbusana seperti seragam PEMDA, cokelat, tapi entahlah label apa yang disandangnya, bajunya kurang rapi dan tidak jelas. Tapi memang terkesan seperti seragam PEMDA. Dijual tiket bus jurusan Jawa Tengah, tiket yang kehijau-hijauan itu berstempelkan perusahaan tak ternama, tanpa nomor telepon, sungguh abal-abal tiketnya, alias tidak bisa dilacak dan tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Keberangkatan bus yang seharusnya dijadwalkan seebelum magrib, ditunda hingga jam 8 malam. Gadis itu bertanya, mengapa ditunda sekian lama, dan jawaban klise karena hujan sehingga macet, ini, itu, dll terlontar dari wanita penjaga loket itu. Jam 8 pun tiba namun petugas tiket menjelaskan ada penundaan lagi hingga pukul 9 namun tiket yang sudah dibayar dengan harga 150 ribu sudah habis sehingga jika ingin tetap naik bu stersebut, gadis itu harus menambah 100 ribu lagi. Gadis tersebut sudah sempat membantah, tidak membawa uang, namun dari belakang majulah seorang pria berbadan besar, dan dengan garangnya bilang mau mengantarkan ke ATM untuk mengambil uang. Gadis itu ketakukan dan akhirnya memilih mengikuti skenario menyebalkan itu.

Menunggu berjam-jam dengan ketidakpastian dan suasana mencekam, membuat gadis itu ingin marah, dan ingin rasanya melabrak semua petugas bus itu. Tetapi sia-sia. Setelah masuk bus, yang terjadi adalah bus itu bukan bus eksekutif sebagaimana tarif yang dibayarkan. Bus yang layak disebut bus di bawah ekonomi, senilai dengan kondisi kopaja atau angkot bobrol yang layak hanya dibayar dengan dua ribu rupiah saja itu, berisikan hanya 6 penumpang murni. Sedangkan 6 laki-laki dengan bada kekar lainnya adalah sekawanan bus yang layak disebut sebagai komplotan preman. Setelah sempat bercakap dengan beberapa penumpang di dalam bus itu, akhirnya semua penumpang tersadar bahwa mereka berada di dalam kandang macan, sangat berbahaya dan mencekam. Semua penumpang harus membayar tarif yang jauh lebih mahal dibanding biasanya. Bus berjalan lumayan lama, tak seorang penumpang pun berani bercakap satu sama lain, mereka takut.

Berhentilah bus pada sebuah jalan untuk menarik penumpang lainnya. Rasa heran semakin memberontak di benak penumpang, apa mungkin bus yang tarifnya eksekutif harus menarik penumpang sembarangan? Dan sangat tidak logis, bus dengan perjalanan yang jauh hanya berisikan sedikit penumpang. Sealah seorang kawanan bus itu mengatakan, bus mungkin berhendi agak lama, jadi jika penumpang ingin membeli makan, atau sekedar turun sejenak, dipersilahkan. Entah apa maksud petugas bus mengatakan pengumuman itu. Mungkin saja untuk membuat penumpangnya jenuh sehingga akan turun satu persatu, atau mungkin juga untuk menunggu mangsa berikutnya. Yang jelas bus itu tidak akan menurunkan penumpang pada tempat akhir tujuan mereka, Bisa jadi juga mereka akan dihabisi di tengah perjalanan yang sepi, diminta paksa semua arang-barang, uang dan segala bawaan penumpang, kemudian mereka ditelantarkan. Entahlah bagaimana misi para penipu ini…

Diawali seorang pria turun dari bus, meskipun dihalangi oleh petugas bus, akhirnya gadis itupun ikut memberanikan diri memilih turun, berikut ternyata para penumpang 4 lainnya ikut menyusul. Perasaan gak karu-karuan alias tak tentu, jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, Jakarta yang sangat menakutkan, busway sudah pasti tutup, dan angkot sudah mulai sepi. Tak ada cara lain, gadis itu memilih untuk mencari taxi dan kembali ke rumah kosnya. Berapapun jauh lokasi sekitar Kampung Rambutan itu ke arah kos, berapa mahalnya ongkos taxi itu sudah tak masuk dalam pikiran jernihnya, itung-itungan sudah tak bisa dipikirkan. Yang ada hanyalah bagaimana caranya agar sampai rumah kos dengan selamat.Bisa jadi supir taxi yang meilihat kebingungannya itupun akan memanfaatkan dirinya dengan rute yang lebih panjang, dan ongkos yang melambung. Gadis yang belom lama menempati rumah kos barunya itupun pasrah, Di dalam taxi bahkan air mata sudah ditunjukkannya. Beruntungnya, sepertinya supir taxinya baik, karena kami semua teman kos, langsung memantau melalui perbincangan penug ketegasan dari seberang ponsel.

Yah, gambaran singkat salah satu kejadia miris di Jakarta ini. Entah bagaimana sistem terminal Kampung Rambutan itu. Banyak hal yang bisa dianalisa, bisa jadi para calo, bus ilegal, dan tiket abal-abal hingga petugas berseragam seolah petugas resmi itu sudah bekerja sama dengan PEMDA setempat. Bisa jadi memang kejadia ini juga sudah familian di lingkungan petugas keamanaan, namun sengaja dibiarkan. Jika hal itu terjadi, betapa bobroknya negeri ini. Melegalkan, memperbolehkan berupa warna tindakan kriminal, hanya sekedar untuk memberikan kesempatan para pengangguran mendapatkan jatah untuk kebutuhan sehari-hari mereka. Entahlah, mudah-mudahan tidak seburuk itu negeri ini.

Waspadalah dengan sekitar. Kerasnya Jakarta hendaknya mampu membuat kita survive dan lebih cerdik lagi bermain peran, dan menyikapi keadaan. How to face it??

1. Jika bepergian jauh, pastikan diri Anda adalah seorang wanita yang powerfull, jangan kelihatan lemah, dan terlalu feminim.

2. Jangan tampakkan wajah asing dengan lokasi Anda berdiri, terminal yang meskipun baru kali pertama Anda kunjungi, PD saja seolah dia sudah bertahun-tahun Anda taklukkan. Semakin Anda kelihatan bingung, semakin banyak mata memandang dan berdatangan memanfaatkan kebingungan Anda.

3. Berbicaralah tegas, tatap dengan pandangan tajam ketika Anda mulai didekati seseorang untuk ditawarkan jasa ini itu. Jasa tike dengan bus yang menawarkan fasilitas A-Z, jasa pengangkatan barang. Katkan dengan tegas tidak, jika dipaksa, tatap matanya tajam.

4. Beranilah bermain peran. Ketika dalam kondisi Anda tidak bisa menolak lagi, carilah alasan apapun untuk mengalihkannya kepada aktifitas Anda, Pura-puralah menelpon dengan percakapan yang seolah Anda adalah anak polisi misalnya, anak komandan perang katakanlah (lebay), atau bikin percakapan seolah Anda ditunggu seseorang sehingga Anda harus cepat menempuh perjalanan itu (ini bisa digunakan ketika di dalam taxi, dan supir taxi mulai mengemudi dengan seenaknya sendiri). Ketika Anda dipaksa untuk diantar ke ATM, pura-puralah beli makan terlebih dahulu, atau tiba-tiba menyelinap dari pandangan lawan bicara. Apapun itu lakukanlah dengan PD, jangan setengah-setengah. Menghadapi preman, harus dengan jurus preman pula, TOTAL.

Kerasnya Jakarta tidak menutup kemungkinan banyaknya bermunculan jenis-jenis penipuan lain yang beragam pola, bentuk, dan setting lokasinya. Pandai-pandai membawa diri, bagaimana bersikap, survive, itu jauh lebih penting. Tidak mungkin 24 jam suami Anda, keluarga Anda, akan bersama Anda. Sometimes, kita akan berada dalam kondisi sendiri, dan mau tidak mau kita harus hadapi sendiri.

Take Care wherever you go, whenever you move!!!!!

Semoga bermanfaat. Kisah nyata dari seorang teman kos.

Comments
  1. xsupri05 says:

    wah setelah baca tulisan ini.. aq inget ceritaq pas pertama kali mau pulang naik bus dulu..
    secara g tau medan dan aq nekat ke terminal pulogadung nyaris deh ngalamin kayak temen kamu itu..
    pertama kali masuk terminal udah diserbu ribuan calo.. karena g punya pengalaman akhirnya ikut arus dah.. dapat bus g jelas dengan tiket g jelas pula.. setelah bebas akhirnya aq berubah pikiran secara aq rasanya g jelas banget..
    akhirnya pindah ke stasiun gambir.. di tempat ini sangat aman, nyaman dan jelas jauh sekali berbeda dari Pulogadung yg baru aq kunjungin.. gpp dah uang buat tiket bus hilang, yg penting bisa pulang dengan aman dan nyaman.
    Kalau mau di terminal, saranq ke terminal rawamangaun saja.. di sana terminalnya kecil, setauq hampir g ada calo dan tiket counter penjual tiketnya jelas. Lebih bagus lagi klo pake langganan bus yang sudah punya nama, terpercaya dan jelas.. kayak aq kalau pulang pergi jkt-tbn selalu naik Pahala Kencana..

    • Ryani says:

      wah nice share. Pengalaman dan saran yang bagus, mudah2 an membantu temen-temen yang butuh info seputar mudik🙂 he he he.. terimakasih

  2. ariana says:

    thx sharing nya Tin

  3. nia says:

    Begitulah Jakarta, dari tahun 1998 aku sudah beralih menjadi pengguna kereta api..
    Kalopun mau naik bus, lebih baik memilih bus yang namanya sudah dikenal.
    Hati-hati kawan🙂

  4. […] Gadis Itu Tertipu di Kampung Rambutan […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s