Ketidakpastian dalam Kehilangan

Posted: April 23, 2011 in JakartaQ, Kisah

JAKARTA dan sekitarnya. Hem, selalu ada kabar baik dan buruk. Dua warna itulah, generalisasi dari Jakarta. Baru sadar sepenuhnya, bahwa saya tengah berada di kota padat berita ini. Baru tersadar pula bahwa banyak kisah nyata yang terjadi di tempat yang begitu dekat dengan saya sekarang ini. Bukan lagi kisah dalam drama romantikal atau sinema aksi dan juga bukan film singkat yang horor. Sekali lagi ini kejadian nyata, tanpa skenario dan juga tanpa sutradara.

Berita yang dahulu hanya kusaksikan lewat media per-TVan, per-surat kabar, radio, internet, kini memang masih melalui media yang sama. Namun saya tengah berada di tengah-tengah setting tempat kejadian. Segelumiit peristiwa yang pilu untuk di dengar seperti trend bom, hipnotis, pelecehan seksual (seperti yang disaksikan teman kos di dalam busway, dan juga yang menimpa teman kos pada saat perjalanan Bandung), penjambretan (sudah berkali-kali saya mendengar kejadian teman kos mengalaminya di bus dan angkutan umum), penipuan (seperti kasus teman saya beberapa waktu yang lalu), dan sampai pada penculikan, cuci otak dan sejenisnya. Miris banget untuk terus diikuti. Bahkan beberapa waktu yang lalu, saya nyaris menjadi korban penipuan penjualan sebuah produk dari perusahan tidak jelas, namun untunglah saya bersama dengan teman yang sangat tegas dan menyelamatkan saya. Belum lagi kasus kriminalitas di dunia online, dengan tendensi bisnis online, transaksi online, seperti yang dialami oleh seorang penerbit buku ini misalnya, dan masih banyak lagi peristiwa, yang membuat kita memang harus pandai-pandai memilah dan menalar, mana yang baik dan mana yang buruk. Lebih jauhnya lagi, teringat pemberitaan perompak SOMALIA, beberapa waktu yang lalu. Yah, inilah realita, ibukota tercinta dari negeri ini, JAKARTA.

Malam ini, berawal dari bermalas-malasan untuk mengikuti topik yang dibawakan oleh bung Nova, tapi akhirnya tersentak juga untuk stay beberapa jam di depan TV. Kisah keluarga yang hilang. Bayangkan saja, mulai dari orang tua, orang dewasa, remaja, hingga anak-anak, bisa hialng tanpa jejak. Keluarga tak bisa lagi menemukan entah di mana mereka berada, masih hidup atau sudah tiadakah? Bukankah hal yang sangat menyakitkan, berada dalam sebuah ketidakpastian? Selalu kalimat ini, “Jika masih hidup, tunjukkan di mana, bagaimanapun kondisinya, akan saya terima karena dia adalah bagian dari keluarga, bagian dari hati kami, namun jika sudah meninggal, tunjukkan pada kami di mana kuburnya?”. Ya kurang lebihnya seperti itulah, kalimat penuh harap hanya untuk mendapatkan sebuah KEPASTIAN, sekalipun betapa pahitnya kepastian yang akan di dapat.

Saya baru benar-benar terbangun dari hanyutnya berita yang selama ini sering saya abaikan, beranggapan karena tidak pernah terjadi di sekitar tempat tinggal saya, atau saya tidak pernah menyaksikan dan mendengar langsung. Namun kali ini, saya akui, saya yakin betul betapa banyak kejadian penculikan secara tidak langsung di negeri ini. Entah berupa apapun bentuknya, tindakan yang membuat resah masyarakat, banyak terjadi. Penculikan berupa cuci otak, penyadraan, atau penjualan anak manusia, entahlah. Sejujurnya saya sangat takut menghadapi fenomena seperti itu. Kisah yang saya ikuti dalam liputan Kick Andy malam ini, senantiasa menjadi media pengingat, di manapun hendaklah kita harus waspada. Di setiap bangun dan tidur kita hendaknya selalu ingat pada yang Maha penguasa atas segala-galanya. Karena kejadian kasus keluarga atau anggota keluarga yang hilang, bukan hanya menimpa mereka yang berpendidikan rendah, atau kurangnya arahan keluarga, namun juga menimpa mereka yang sudah menempuh jenjang pendidikan bergengsi sekalipun. Penculikan mungkin bisa dihindari atau di lawan dengan akal cerdik, namun siapa yang bisa menghindari ketika dalam kondisi kita lemah, otak kita sudah tak mampu lagi mencerna semua hal yang logis? Saat itulah menurut saya guna dari sebuah pembentengan diri sendiri. Bukan keluarga, jabatan, gelar yang akan menjaga kita 24 jam, melainkan Tuhan yang tak pernah tidur (Tuhan Tak Pernah Tidur : Buku yang dibagikan oleh Kick Andi malam ini), yang akan mengawasi, menjaga dan melindungi setiap jengkal langkah kita di manapun, di mana saja bumi Alloh.

Sesaat saya merasa takut jauh dari keluarga. Terkadang merasa gelisah ketika bepergian jauh. Bahkan tak jarang merasa was-was jika harus berjalan seorang diri. Namun i have to face it. Dan di bumi yang saya pijak sekarang ini, kota yang keras dan penuh dengan banyak fenomena, rasa takut berkepanjangan bukanlah solusi. open eyes, open mind dan peka terhadap sekitar, serta tidak tuli untuk mendengar segala nasihat dan petuah, insya Alloh, Tuhan bersama kita selalu. Saatnya berdamai dengan Jakarta dengan kewaspadaan tiada batas.

Semoga bermanfaat, have a nice share.

Comments
  1. aRuL says:

    Iya senyaman apapun kita saat ini belum mendapatkan kesulitan apapun, tetap harus waspada. Tak ada yang menyangka orang2 di luar kita ternyata bisa memanfaatkan kita apalagi ketika lengah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s