Pada Akhirnya, Semua Karena Keluarga

Posted: July 3, 2011 in Cerita-cerita, motivasi

Beberapa hari ini, kerap sekali berjumpa dengan perisitiwa semacam ini. Entah melalui perbincangan singkat, entah melalui pemandangan yang menyihir mata, atau sekedar mendengarkan sharing kerabat dan teman. Entah karena kebetulan saja. Terlebih lagi, karena saya sendiri mengelami dan merasakannya, betapa saya sangat merindu akan hadirnya kehangatan orang-orang terdekat, keluarga, sanak saudara. Apapun dalihnya, saya sangat merindukan mereka semua.

Alkisah, dalam sebuah zaman dongeng, ada seseorang yang begitu terobsesi untuk kuliah di Luar Negeri. Segala bekal meraihnya sudah dipersiapkan, terutama kunci utama, si TOEFL. Semua pernak pernik pendukung sudah perlahan dipenuhi. Pokoknya sangat berambisi, semangatnya berkobar-kobar, darahnya mendidih ingin menaklukkan segenap proses tes. Tetapi, di saat penghujung keputusan, akhirnya dia memilih untuk stop, this is not my real dream.

“Sebenarnya apa yang saya inginkan di luar sana? Apakah pendidikan di Indonesia tidak mampu mewadahi otak saya untuk berkarya? Sebegitu buruknyakah kualitas pendidikan negeri ini? Ataukah hanya keingingan untuk bergaya menyandang predikat gelar luar negeri? Hem, atau pula ingin menjelajah dunia baru, budaya baru, kehidupan baru, bersama orang-orang baru? Tidak, saya sudah punya jawabannya. Semua itu bukanlah yang saya cari, bukanlah sungguh-sungguh yang saya inginkan.

Keluarga, orang-orang terdekat saya, sanak saudara, itu semua adalah tujuan saya. Apa yang saya cari di luar sana? Akankah sebahagia jika saya dekat dengan keluarga? Apakah tidak bisa saya meraih semuanya dalam waktu yang bersamaan, dalam momen yang tak akan bisa terulang? Menghabiskan waktu belajar bersama dengan keluarga, bagian dari kehidupan saya, dan mungkin mereka akan sangat membutuhkan saya, lebih dari kebutuhan saya untuk sekedar makan nasi di negeri orang lain.

Yah, akhirnya, obesisi itu perlahan meninggalkan saya, jauh dan semakin jauh bahkan saya sudah malas lagi mengenalnya. Saya semakin jatuh cinta dengan negeri ini. Pendidikan di negeri ini apapun bentuknya, bukanlah halangan untuk besarnya otak saya. Memangnya kenapa kalau saya SD, SMP, SMA, S1, S2, S3, dan Sseterusnya itu seluruhnya saya habiskan di Indonesia? Tidak akan ada yang melarang. Dan tidak ada yang menjamin kebesaran otak saya di negeri orang lain. Semuanya tergantung saya, dan saya akan lebih bahagia jika saya mengetahui sebenarnya apa yang lebih dan lebih membuat saya bahagia.

Saya menikmati hari-hari saya karena itu pilihan sadar saya. Menjalani hidup bukan karena obsesi tapi karena kebahagiaan. Insya Alloh lebih bahagia. Bahkan sangat bahagia. ”

Mungkin saya atau anda adalah salah satu orang yang berobsesi, entah dalam hal apapun. Tapi pada akhrinya, saya juga sangat sependapat, keluargalah karenanya. Keluarga tempat utama, pertama dan terakhir. Semua karena keluarga. Dan saya selalu berdoa, di manapun saya akan ditakdirkan menerima beasiswa itu, saya hanya ingin didekatkan dengan suami, dan keluarga. Di manapun saya belajar, tidak akan jauh dari lahan saya beribadah. Semoga semuanya seimbang, belajar berbeasiswa, dekat suami, dekat keluarga, siapa yang tidak mau? Hemmm, saya sangat mauuuuu……..I love my small family, my big family.

Miliaran panah jarak kita
Tak jua tumbuh sayapku
Satu-satunya cara yang ada
Gelombang tuk ku bicara

Tahanlah, wahai Waktu
Ada “I am missing You”
Yang harus tiba tepat waktunya
Untuk dia yang terjaga menantiku

Hem, terimakasih. Nice song.

Selamat berbahagia bersama keluarga yang bahagia, “low obession high happyness”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s