Maunya Kisah, Jadinya Keluh

Posted: July 5, 2011 in motivasi

Seorang perempuan terlahir sebagai anak pertama. Dari sinilah pendidikan karakter mulai terbentuk. Dan saya rasa guru pertama pendidikan karakter adalah orang tua. Bagaimana dari kecil kebiasaan satu demi satu ditanamkan, kebiasaan berfikir, berpendapat, bersikap, dan bertingkah.

Saya sangat merasakan hal itu. Sebelum menjadi seperti sekarang ini, tentu saja saya melewati banyak fase. Fase balita, fase anak-anak, fase remaja, dan fase pendewasaan. Setiap fase memiliki kapasitas yang berbeda-beda.
Hem, entah di fase yang mana saya mendapatkan pelajaran berharga dari guru saya itu, saya memanggilnya dengan penuh kasih, “Bapak”. Hem, saya sangat bangga memiliki guru demikian parasnya. Pelajaran berharga itu adalah Bab Mengeluh.

Saya harus lulus Bab pelajaran itu. Harus dapat nilai bagus. Tapi sayangnya, nilai ini tidak seperti nilai di raport sekolah atau transkrip IP kuliah. Tidak sedikitpun saya diberi kesempatan untuk mengeluh di depan beliau. Mengeluh sama saja dengan setor nilai merah. Semua yang ada sangat layak untuk disyukuri. Mengeluh sama halnya dengan menghilangkan nikmat syukur. Mengeluh berarti melemahkan diri sendiri.

Semua bisa karena terbiasa. Di depan sang guru, mungkin saya bisa tampak begitu kuat, tanpa keluhan sedikitpun. Namun bagaimana saya dibelakang? Apakah bisa saya menerapkan itu semua? Jawabannya adalah BISA. Memang benar, mengeluh adalah penghambat terbaik untuk bertindak. Satu langkah lebih maju akan menjadi satu langkah lebih mundur karena mengeluh.

Lalu apakah orang yang tidak pernah mengeluh adalah orang yang tidak memiliki rasa ingin berbagi? Disinilah letak bedanya. Terkadang keinginan berbagi, disalah artikan sebagai keluhan. Padahal berbagi itu dilakukan ketika satu hal sudah terlewati. Bagaimanapun kuatnya seseorang, saya yakin akan lebih ringan dan lebih lengkap jika mampu berbagi dengan seseorang yang sudah dipilihnya. Berbagi cerita, berbagi rasa, dan berbagi kisah. Berbagilah dengan yang layak untuk dibagi. Jangan salah tempat, salah waktu apalagi salah pilih. Berbagilah hanya jika dengan berbagi itu menjadi nyaman, bukan semakin runyam. Berbagilah hanya jika dengan berbagi itu menjadi lebih indah, bukan lebih gelap. Berbagilah jika dengan berbagi itu segalanya menjadi lebih baik. Berbagilah dengan tepat, jangan sampai keinginan berbagi ditafsirkan sebagai keluhan.

Selamat berbagi kisah, jangan berbagi Keluh. Dan terpenting lagi, jangan jadikan orang lain terganggu dengan kisah-kisah itu.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s