Tombo Galau

Posted: February 29, 2012 in Cerita-cerita, Kisah, motivasi
Tags:

Beberapa hari yang lalu saya benar-benar merasakan kegalauan dalam jiwa saya. Bukan karena tak punya uang, bukan karena belum mengerjakan tugas, bukan juga karena problematika apapun. Saya benar-benar tidak tenang, gelisah. Saya mencoba merenung dan mencari penyebabnya.

Saya seorang cucu pertama dari nenek (ibu dari ibu saya). Saya satu-satunya yang sudah kuliah dan bekerja. Saya memiliki 5 orang sepupu dari kedua saudara ibu saya (bulek-bulek saya). Kelima sepupu saya sudah yatim sejak sekitar 5 dan 3 tahunan yang lalu. Mereka masih terlalu kecil untuk menjadi yatim, saya benar-benar miris melihatnya.

Semasa kedua orang tua mereka lengkap, saya rasa mereka sangat bahagia dan hidup tidak pernah kekurangan. Mereka belum mengerti betapa keras hidup ini. Mereka selalu berada dalam lindungan dan kasih sayang yang aman, nyaman dari orang tua. Wajar, itu hak mereka dalam usia mereka. Kini mereka semua sudah bersekolah, duduk di berbagai jenjang. Mungkin ada yang belum mengerti kemana bapak mereka pergi. Yang mereka tahu hanyalah tidak ada sang bapak di rumah, yah mungkin untuk pergi sejenak karena sebuah urusan pekerjaan atau yang lain, dan pasti akan datang kembali. Mereka merindukan dan menunggu kedatangannya. Selalu…Berharap akan ada oleh-oleh yang menyenangkan.

Beberapa diantara mereka ada yang sudah mengerti, ada yang sudah harus ikut menanggung kebutuhan keluarga, ada yang masih menginjak bangku kuliah. Mereka menjadi anak yang kuat dan merasa memiliki tanggung jawab, menjaga adik-adik dan ibu mereka. Saya salut dengan mereka semua.

Saya menganggap mereka seperti adek saya sendiri, segala bentuk perhatian saya curahkan sebisa mungkin yang saya mampu. Dalam jarak yang tak dekat, dalam waktu yang tak banyak. Saya selalu ingin peduli dengan mereka. Ketika mereka sedih, ketika mereka sakit, ketika mereka membutuhkan segala hal, saya ingin selalu tahu.

Namun, setelah menikah, setelah saya memiliki kehidupan baru, saya menjadi sedikit jauh. Seolah ada jarak diantara kami. Saya tidak lagi mampu seperti waktu-waktu sebelumnya. Perhatian dan partisipasi saya dalam kehidupan mereka tidaklah berarti lagi. Seringnya saya hanya bisa melihat, mendengar, dan membayangkan nasib mereka. Dan saya akhirnya menangis pilu, sendiri. Saya hanya mampu berdoa semoga Alloh selalu menjaga dan melindungi mereka, menempatkan mereka di tempat yang selalu baik.

Beberapa hari yang lalu, saya sangat ingin menyempatkan diri pulang ke kampung kelahiran saya. Dan di sanalah mereka bertempat tinggal pula. Saya ambil hari aktif, alhamdulillah ternyata kuliah libur. Saya lepas kerinduan saya, meski hanya sejenak, dalam hitungan menit mungkin. Saya berikan sedikit yang saya punya, saya benar-benar ingin berbagi. Walau tak sebanyak dulu, namun saya lega. Hati yang galau, resah dan gelisah seolah mendapatkan penetralnya. Saya sangat ingin kembali dalam keadaan yang lebih baik, dan saya sangat berharap ini akan menjadi istiqomah.

Beruntunglah kita yang memiliki kebahagiaan yang lengkap, mungkin mendekati sempurna. Memiliki pendidikan yang layak, pekerjaan yang mapan, rumah, mobil, orang tua yang lengkap, kasih sayang yang tak pernah kurang. Sungguh beruntung….Mari bersyukur.

Berbagi tidak harus ketika kita sudah memiliki segalanya melimpah. Ketika apa yang kita inginkan sudah terpenuhi segalanya. Ketika kita tidak lagi membutuhkannya. Sebagaimana menuangkan air ke dalam gelas, jika penuh maka akan mengalir ke sekitarnya. Tidak, dan bukan seperti itu. Berbagi itu ibarat air mengalir. Kapanpun ada aliran air mengalir di sungai, di situlah letak saat kita berbagi, terus bersamaan berdampingan. Tidak perlu banyak, tapi ingatlah diantara apa yang kita makan, apa yang kita nikmati, apa yang kita dapatkan, itu ada hak mereka yang lebih membutuhkan. Berbagi dengan menunggu ketika kita berlebih sama saja dengan orang yang rakus dan tamak. Karena kebutuhan manusia tidak akan pernah usai, tidak akan pernah terbatas. Keinginannya selalu ada dan bahkan bertambah.

With Love

Comments
  1. diffaimajid says:

    mudah2an kita selalu dimurahkan dan diikhlaskan hatinya untuk berbagi😀

  2. Ryani says:

    @mas AMS : terimakasih, adek juga makin bangga sama mas.
    @diffaimajid: aminn

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s