Selamat hari Kartini, Ibu!!!!

Posted: April 21, 2012 in CINTA, Keluarga, motivasi

Beruntunglah saya terlahir dari seorang wanita, seorang ibu yang tidak bekerja di kantoran. Tidak terikat jam kerja, deadline, peraturan, dan segala macam kesibukan yang menyita seluruh waktunya. Alhamdulillah terimakasih Ibu. Waktumu untukku tak ternilai oleh apapun. Tak tergantikan oleh apapun. Kapanpun aku membutuhkanmu, engkau selalu siaga. Engkau selalu siap mendengarkan keluh kesahku, cerita-cerita tidak pentingku setelah sekolah, bermain, bahkan terkadang hayalan-hayalan jauhku. Engkau selalu menyiapkan diri untuk disampingku manakala aku sedih, sepi, dan butuh penguatan. Engkau selalu memperhatikan kebutuhan giziku, makananku, keperluan sekolahku, bekalku, kebutuhan belajarku dan segala pernak pernik yang aku butuhkan. Engkau menyetrikakan bajuku, mencuci baju kotorku, merapikan tempat bukuku yang berserakan setelah aku tertidur. Engkau selalu memastikan semua rapi dan nyaman buatku.

Engkau menjahit bajuku yang robek, kancing bajuku yang lepas, tas ku yang hampir jebol, sandal sepatuku yang hampir lepas dari alasnya. Ah, semua engkau sulap menjadi layak pakai. Aku saja belum bisa menjalankannya. Aku masih mengandalkan tukang permak untuk mengatasinya.

Ibu, begitulah aku memanggilmu. Hingga detik ini, hingga aku akan menjadi seorang ibu, tak pernah ku dengar engkau mengeluh capek, letih dan lelah mengurusku. Tak pernah ku mendengar engkau bergumam perih ketika mengupas bawang merah untuk menyiapkan masakanku. Tak pernah ku dengar engkau merintih betapa panasnya tanganmu karena cabe yang kau kupas ketika membuatkan sambal goreng untukku. Tak pernah engkau loncat histeris ketika letupan minyak goreng mengenai tubuh dan tanganmu ketika menggoreng ikan untukku. Engkau selalu menanyakan padaku, ingin menu apa hari ini? Mau ikan apa? Sudah makan? Selalu selalu dan selalu engkau sangat peduli denganku.

Engkau selalu mengerti waktuku. Tak pernah engkau mengganggu waktu belajarku, waktu bermainku bersama teman-teman hanya untuk sekedar membantu menyelesaikan pekerjaanmu. Engkau tak pernah memaksaku mencuci, menyetrika, bahkan itu bajuku sendiri.

Kalau aku melihat rutinitas sehari-harimu, betapa aku merasakannya sekarang. Dahulu aku menganggap itu adalah hal biasa yang wajib dilakukan seorang ibu untuk keluarganya. Melihat pekerjaan rumah ternyata tak pernah usai, tak pernah ada habisnya. Tangan yang ringan itu selalu ingin melihat rumah dalam kondisi bersih, rapi dan nyaman bagi anak-anak dan suami. Menciptakan nuansa yang kerasan dan betah untuk penghuninya. Kini aku merasakannya. Menjadi seorang ibu rumah tangga bukanlan hal yang ringan. Mungkin semua orang bisa melakoninya. Namun menjadi seorang ibu rumah tangga yang hebat, dibanggakan, diandalkan oleh anak dan suami adalah tidak semua wanita dapat meraihnya. Dan ibu, engkau adalah ibu yang sangat aku banggakan. Aku bangga padamu.

Engkau tak banyak bicara untuk membuatku mengerti. Engkau tak pernah mengomel ketika aku melakukan kesalahan. Caramu mendidik dan memanjakanku bu, aku sungguh iri. Bisakah aku?

Kini, kita sudah berpisah rumah. Bukan seperti dulu yang aku tinggal di rumah kos untuk menuntut ilmu dan bekerja. Kini aku sudah memiliki rumah tangga kecilku bersama suami dan calon buah hati kami. Jarak memisahkan kita. Waktu membuat kita jarang bertemu. Tapi engkau selalu mengingatku ketika engkau membuat masakan kesukaanku, ketika banyak makanan di rumah, dan engkau selalu merindukanku. Engkau sering menghawatirkan bagaimana kesehatanku dan calon bayiku. Engkau selalu mendoakanku, kapanpun, di manapun.

Tapi aku? Bagaimana denganku? Kadang aku makan yang enak-enak, jajan sesukanya? Ingatkan aku denganmu? Akupun tak mempedulikan bagaimana kesehatanmu. Engkau pasti capek dalam usiamu yang tak muda dan dengan kesibukanmu yang masih banyak. Aku tak pernah membelikan susu kesehatan untukmu. Akupun tak pernah membantumu. Mungkin aku terlalu sibuk dengan keluargaku sendiri. Mengurus segala kebutuhan keluargaku sendiri.

Ibu, sampai saat ini, aku merasa sangat egois. Aku belum bisa membalas jasa-jasamu, secuilpun. Dan sampai kapanpun, jasa-jasa kebaikanmu, kasih sayangmu itu, tak kan bisa terbalaskan. Ibu, tapi ketahuilan. Aku begitu sayang padamu. Aku ingin selalu menjadi anak yang berbakti dan engkkau banggakan. Aku selalu berdoa untuk kesehatanmu, kebaikanmu, dan kebahagian dunia akhiratmu. Mungkin hanya itu yang bisa aku lakukan saat ini. Aku sangat merindukanmu, Bu. Semoga engkau selalu dalam perlindungan Alloh, hanya padaNya aku memasrahkan semua yang tak dapat kujangkau dengan hati dan ragaku.

Selamat hari Kartini, Ibu!!!!

With Love

 

Comments
  1. AMS Rahman says:

    selamat hari kartini dek. mas yakin smpean bisa jd ibu dan istri yang hebat., :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s