Kuliner Ikan Kutuk Versi Ibu Hamil

Posted: April 24, 2012 in Cerita-cerita, Keluarga, Kuliner, Menu Sehari-hari

Mau berceloteh tentang ikan Kutuk (Baha lainnya baca : Ikan Gabus), membuat saya teringat pertama kali menginjakkan kaki di rumah mertua. Masakan pertama yang disajikan adalah asem2 kutuk salah satunya. Kala itu saya tidak mengambil menu itu, dan langsung berpaling ke menu lainnya. Hehe, saking ga penasarannya saya terhadap pengolahan ikan basah seperti itu. Sedangkan suami dan keluarga sangat gemar dan kerap menyantap asem2 dan “jangan ireng” Kutuk. Sudah kebayang bagaimana saya harus belajar memasak itu dan belajar untuk menyukainya pula. Tanpa paksaan dan tanpa intimidasi dalam bentuk apapun, perlahan melihat selera makan suami yang selalu enak, membuat saya tertulat untuk menyukai makanan2 yang sebelumnya tidak saya sukai. Tergugahnya hati saya untuk memasakkan menu kesukaan suami membuat selera makan saya luluh pula, ikut menikmati.

Sebenarnya kala itu bukan nyidam sih, tetapi setelah sahabatku yang juga lagi hamil cerita2, hem biasa dia suka iming2 makanan yang telah dilahapnya. Awalnya sudah berencana ke pasar beli ikan kutuk segar, sesuai instruksi sahabatku itu, pasar Made Lamongan, yang konon katanya lengkap, bersih dan ikannya segar2. Sudah mempersiapkan diri usai sholat shubuh langsung meluncur kesana.Tapi kok ya tiba2 hawa malas melanda. Akhirnya gatot deh rencana masak ikan kutuknya.

Hem, mengapa ikan kutuk? Saya tidak pernah makan ikan ini sebelumnya. Lebih tepatnya malas mencoba dan tidak ada rasa ingin tahu bagaimana enaknya. Bukan apa2, kebiasaan pengolahan ikan ini yang tanpa digoreng, dan seringnya di masak kuah asem2 atau ‘jangan ireng’ orang jawa bilang, membuatku tidak berselera. Saya tipikal pilih2 jenis pengolahan makanan. Apalagi untuk jenis ikan yang bawaannya amis, membuat saya mau makan kalau hanya digoreng dalam kondisi yang sangat kering dan kriuk.

Sebenarnya besar keinginan saya untuk belajar membuat asem2 kutuk. Kali ini bukan hanya karena ingin menyenangkan suami, namun juga konon kandungan gizi ikan kutuk sangat baik untuk ibu hamil seperti saya ini, xixixi. Salah satunya kata sahabatku itu pula. Namun situasi dan kondisi belum memungkinkan untuk saya melakukannya sekarang.

Al hasil apa yang terjadi? Setelah suami memalukan survey di Lamongan,ada sebuah warung yang menyediakan menu asem2 kutuk, belut, dan juga penyet lele, mujair, bandeng, dan ikan lainnya. Tempatnya sederhana, ya bisa dikatakan kelas kaki lima, bukan level depot apalagi restoran. Tapi, soal rasa dan pelayanan, ga usah ditanya lagi deh. Maknyus, seperti kata pak Bondan. He he. Warung saja ya saya menyebutnya. Labelnya warung pak Soddiq. Dengan cat hijau, pohon rindang yang menjadikan nuansa warung ini adem ayem, ditambah semilir angin dari bilik jendela yang amat luas dan kita bisa menikmati bentangan lahan yang luas karena sebelah kiri warung ini adalah lahan kosong. Kita bisa melihat sayup2 lambaian pohon kelapa yang menghiasi warung apung, sekelas resto lumayan mahal penyedia menu seafood dll.

Hem, back to warung pak Soddiq. Sebagai pelanggan pemula warung, saya sempat khawatir tidak dilayani dengan istimewa seperti pelanggan lain yang sudah akrab singgah di warung ini. Namun saya salah, begitu datang saya dan suami disambut dengan ramah dan dianggap seperti anak sendiri. Penawaran menu yang penuh dengan kasih sayang membuat saya merasa sangat nyaman. Kami yang suka makan dalam jumlah prosi yang “Big”, tidak perlu khawatir karena jumlah nasi yang banyak tidak masuk dalam hitungan budget. Boleh menambah nasi berapapun kalau mau. Xixixi. Mmm sruputan kuah pertama asem-asem kutuknya, beuh sangat mantap, tidak amis, dan sangat segar. Ikan kutuknya juga gurih, dan lembut. Enak banget. Saya sampai lupa daratan menyantap menu ini. Pedasnya bukan main kala itu. Hehe. Bagi yang suka ikan Kutuk dan menu lalapan lainnya, saya rekomendasi tempat ini. Dijamin kualitas prima, harga kaki lima. Tenang saja tidak akan dimahalkan. Dan saya juga dapat bonus tips memasaknya agar tidak amis. Hehehe

Nah, untuk meyakinkan, berikut liputan kandungan gizi ikan Kutuk yang konon ternyata lebih tinggi nilai gizinya daripada ikan Salmon yang suka dijual di Supermarket.

Komposisi gizi per 100 gram beberapa ikan tawar dan payau

Jenis ikan Protein (g) Lemak (g) Karbohidrat (g) Mineral (g) Air (g)
Mas 16 2,0 1,0 1,0 80
Bandeng 20 1,3 1,5 1,2 76
Tawes 9,7 5,1 1,7 1,5 82
Gabus 20 1,5 0,2 1,3 77
Betok 17,5 5,0 0,5 2,0 75
Lele 17,7 4,8 0,3 1,2 76

Seperti ikan lain, keunggulan ikan gabus adalah kandungan proteinnya yang cukup tinggi. Kadar protein per 100 gram ikan gabus setara ikan bandeng, tetapi lebih tinggi bila dibandingkan dengan ikan lele maupun ikan mas yang sering kita konsumsi.

Kandungan protein ikan gabus juga lebih tinggi daripada bahan pangan yang selama ini dikenal sebagai sumber protein seperti telur, daging ayam, maupun daging sapi. Kadar protein per 100 gram telur 12,8 gram; daging ayam 18,2 gram; dan daging sapi 18,8 gram. Nilai cerna protein ikan juga sangat baik, yaitu mencapai lebih dari 90 persen.

Selain itu, protein kolagen ikan gabus juga lebih rendah dibandingkan dengan daging ternak, yaitu berkisar 3-5 persen dari total protein. Hal tersebut yang menyebabkan tekstur daging ikan gabus lebih empuk daripada daging ayam ataupun daging sapi.

Rendahnya kolagen menyebabkan daging ikan gabus menjadi lebih mudah dicerna bayi, kelompok lanjutt usia, dan juga orang yang baru sembuh dari sakit. Bayi memerlukan asupan protein tinggi, tetapi belum memiliki saluran pencernaan yang sempurna.

Selamat mencoba !!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s