Nikmati, Jangan Ratapi Perjalananmu

Posted: April 25, 2012 in Cerita-cerita, Pengalaman

Perjalanan ini, terasa sangat menyedihkan (Ebiet).

 

Sebuah perjalanan pasti dialami setiap orang. Namun pengalaman di jalan, itu yang belum tentu semua orang miliki. Suka duka, emosi, peristiwa-peristiwa dan serangkaian kejadian akan menjadi sejuta kenangan dan pengalaman berharga. Bukan hanya laki laki yang dapat melakoninya. Wanitapun bisa.

Saya, sebagai wanita hampir sudah kenyang hidup di jalan. Berkeliling dari satu tempat ke tempat lainnya. Dari satu jalan ke jalan berikutnya. Hem, saya yakin masih banyak wanita tangguh di luar sana yang mampu menaklukkan jalanan yang keras ini. Sepeda mini, sepeda motor, angkot, kopaja, bus, busway, ojek, becak, mobil pribadi, pesawat, kereta, kereta listrik, kapal,bajaj, taxi, semua pernah menjadi saksi, kawan dan musuh sekaligus dalam perjalanan saya.

Ke sekolah, ke kampus, kompetisi, tempat wisata, tempat kerja, ibu kota, gunung, laut smua adalah fasilitas yang layak untuk dinikmati. Betapa lengkapnya dunia ini. Indah, sungguh luas nan terbentang tergantung dari cakrawala mana kita memandang. Mungkin ada tipikal orang yang tidak suka melakukan perjalanan jauh terutama hanya untuk berwisata, menghabiskan uang. Itulah tipikal seperti ibuku. Kalau saya beda lagi, kemanapun mau asalkan murah, apalagi difasilitasi, lebih lebih ada tujuan lain selain wisata. Hehehe…

Ada pula tipikal yang suka banget jalan-jalan dan menghabiskan uang, semahal apapun ditempuh yang penting suka, yang penting puas dan happy. Bahkan ada yang dibela-belain harus berwisata sekalipun sedang bokek. Yang seperti inilah yang menurut saya tidak akan memiliki pengalaman berarti dalam perjalanannya. Setiap meter jarak yang ditempuh hanya untuk bersenang senang, tidak lebih dari itu. Tidak ada pelajaran yang dipetik, tidak ada pengalaman berharga sebagai ilmu.

Dulu, awal-awal kuliah, saya benci banget naik kendaraan umum seperti angkot dan bus. Angkota memberikan hawa panas dan perjalanan yang lama, buang-buang waktu. Bus memberikan kesan arogan karena penumpang dipaksa naik dan turun dengan cepat. Kala itu saya lebih suka naik sepeda motor sendiri meskipun harus menempuh Lamongan-Surabaya. Dari sekian kendaraan umum yang saya suka adalah kereta jarak jauh. Saya sungguh suka nuansa di dalam kereta. Pengecualian rasa capek duduk dan ke kamar kecilnya lho ya, itu minusnya. Dan saya rasa sangat tidak rekomended kalau itu saya lakoni sekarang, dalam kondisi hamil. Hehehe. Di dalam kereta saya merasakan hawa yang sejuk, sepi dan mengharukan. Menikmati gelapnya malam di tengah rel yang melintasi sawah, ladang, rumah-rumah penduduk. Kadang gelap, terang, remang-remang. Hem, bagi saya di situlah saya bisa merenungi sedikt kehidupan ini.

Kini!!! Angkot, bus, kereta listrik sudah menjadi makanan sehari-hari saya. Mau gak mau saya harus mau karena mengingat kondisi, tidak mungkin saya naik kendaraan pribadi sendiri untuk melakukan aktifitas kuliah. Di angkot terutama, saya kadang bercakap dengan sopirnya, dengan penumpang lain, bahkan kadang berada di tengah-tengah rampok. Bawaan ngantuk pasti selalu ada ketika di dalam angkot maupun bus. Di situlah kita harus waspada dan peka terhadap sekitar. Kadang hawa panasnya kemarau membuat saya tidak tahan berlama-lama di angkot, apalagi kalau si sopir berhenti kian lamanya untuk menunggu penumpang. Beuh, mau gimana lagi, harus sabar. Belum lagi habit ogal-ogalan supir angkot yang seperti memiliki 1000 nyawa, ga pernah takut celaka, ataupun bahaya lain. Penumpang hanya mampu diam dan berdoa. Mudah-mudahan selamat sampai tujuan. Apalagi ibu hamil seperti saya, hem hanya mampu mengelus perut dan berkata, “yang kuat ya nak”!!! Hehehe…

Sepanjang perjalanan, saya selalu memperhatikan sekitar (kalau tidak tidur), hehehe. Di situlah kita dapat bersosialisasi dengan hidup, meski hanya lewat mata memandang. Bayangkan saja, ketika gelap sudah tiba, masih banyak orang di luar sana yang harus berjuang dengan hidup, mencari nafkah. Miris terkadang melihat sopir angkot yang dalam seharian tidak mendapatkan penumpang, al hasil kadang setoran minus. Tukang becak yang masih siaga, tukang tambal ban, pedagang buah keliling yang masih berusaha menghabiskan dagangan, pedagang keliling di bus yang terus menjajahkan makanan dan minumannya, pedagang kaki lima yang terus keliling, hem masih beruntung saya yang walaupun masih di jalan, toh rumah dan tempat istirahat yang nyaman, dan suami sudah menyambut di rumah. Alhamdulillah. Segalanya adalah nikmat.

Tidak ada yang tahu apa yang terjadi ketika kita berada di perjalanan. Oleh sebab itu, doa ketika perjalanan, dan persiapan materi dan fisik itu penting. Banyak sekali yang dapat terjadi. Saya pernah hampir menabrak truk, pagar rumah, karena ngantuk ketika nyetir. Saya pernah hampir kecopetan dalam angkot, saya pernah dijambret ketika naik motor (seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya), saya pernah kebablasan dalam angkot karena ketiduran, mau ndak mau harus turun dan putar balik dengan angkot yang lain. Saya pernah berdiri sepanjang berangkat hingga sampai tujuan karena tidak ada tempat duduk, dan yang baru terjadi adalah salah angkot.

Begini kondisinya. Sebagai ibu hamil, terkadang hajat untuk ke belakang tidak tertahankan lagi. Saya memandang sekitar berharap ada pom bensin atau masjid. Nihil, tak ada. Akhirnya setelah benar-benar tidak tahan, saya melihat sebuah mushollah kecil. Entah itu daerah mana, saya tidak kenal. Yang penting saya turun dan segera mencari toilet. Alhamdulillah terlaksana.

Saya kembali mencari angkot yang searah pemberhentian saya semula. Pikir saya, pasti angkot yang sama lewat. Ternyata saya salah. Memang angkot tersebut seharusnya melewati trayek yang saya tuju, tanpa bertanya saya masuk saja. Sempat tertidur sebentar, dan saya kaget ketika saya melentasi tempat yang saya kenal namun malah menjauh dari tempat tujuan saya, berbalik arah menuju tempat saya harus pulang. Ternyata saya salah naik angkot. Melihat jam tangan, saya sudah telat kuliah. Buru-buru saya naik angkot lagi, dan al hasil sampai di kelas, dosen sudah mengahiri perkuliahan. Hem… dalam hati, tahu gini saya tidak masuk kuliah saja. Sudah capek, panas, ga ikut kuliah. Sebenarnya pengen sebel juga pada diri sendiri. Hehehe.

Begitulah kadang terlintas dalam keluhan saya. Namun kembali saya berfikir tenang dan senang, saya kembalikan semua bahwa tidak ada yang sia-sia. Nikmati saja prosesnya, rasakan hikmahnya, jalani perjalanannya, semua insya Alloh adalah untuk ibadah. Tak usah berharap pahala, lakukan saja dengan Ikhlas, insya Alloh tak ada perjalanan yang menyebalkan, melelahkan, dan menjemukan. Perjalanan adalah hal yang layak untuk dinikmati, bukan diratapi. Bahkan saya masih sempat ngeblog dalam perjalanan.

Have a nice Trip. !!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s