Potret Kartini Anggun

Posted: April 26, 2012 in motivasi, Tentang Wanita
Tags:

2012. Bisa dibilang era yang semua orang serba bisa, serba dapat mendapatkan segalanya yang diinginkan sekalipun harus melalui berbagai macam cara. Wanita 2012. Bisa dibilang sudah melampaui masa emansipasi. Emansipasi wanita yang sudah digembar gemborkan sejak beberapa dekade terakhir terkadang memunculkan banyak versi Kartini masa kini. Semakin bertambah tahun, semakin modern era, semakin maju teknologi, membuat istilah emansipasi disalah-artikan. Emansipasi wanita yang diperjuangkan Kartini masa dulu, tak lagi mengena jejak dan esensinya. Wanita, menjadi manja dan semakin nglunjak dengan senjata emansipasinya. Banyak wanita ingin sejajar dengan laki-laki, baik dalam jabatan karir, hak bersuara, hingga dalam rumah tangga. Menarik rasanya untuk menyoroti wanita dalam Kartinii rumah tangga. Ya, itung-itung sebagai sarana instrospeksi diri. Konsep seperti apa yang ada dan seharusnya ada?

Banyak fakta menunjukkan, wanita dalam rumah tangganya selain ingin dipanggil istri, ibu, juga ingin dipanggil sebagai bos. Gemilang karir pekerjaan yang sudah digelutinya membuatnya gila waktu, dan tak jarang mereka pun akhirnya menyandang gelar workaholic. Apa yang terjadi?? Berani kepada suami, merasa menjadi bos dalam rumah, menjadi ratu yang tak bisa dilawan, semua harus patuh dan diturti. Dengan dalih dia capek bekerja, uang penghasilan yang lebih tinggi dan itu pula yang dijadikan alasan untuk mencomot pembantu rumah tangga untuk menggantikan peran yang seharusnya ia jalankan sebagai ibu dan istri yang anggun dalam mahligai rumah tangganya.

Pembantu?? Saking jarangnya di rumah, kadang anak merasa menjadi anak dari seorang pembantu, suami tak lagi terurus, komunikasi tak lagi indah. Lalu apalagi kalau bukan perceraian yang menjadi ujung solusi? Padahal itu adalah bencana dan neraka dalam keluarga yang bahkan mungkin sudah dibina bertahun-tahun.

Sayang sekali. Sungguh disayangkan. Anak yang seharusnya merupakan buah segar perkawinan menjadi korbannya. Inilah konsep yang semakin salah untuk Kartini masa kini. Bagi saya, Kartini masa kini adalah Kartinii Anggun. Dia bukanlah nama seorang penyanyi, artis, tokoh pejabat, namun dialah publik figur yang sesungguhna. Kartini yang anggun dalam pandangannya di mata suami dan keluarga. Bukan di mata rekan kerja, khalayak, ataupun orang lain. Bukan pencitraan, pujian, dan berbagai penghargaan dari manapun. Kartini Anggun, dialah sosok emansipator yang sesungguhnya, tanpa pamrih, tanpa dalih neko-neko.

Dialah pandangan yang menyejukkan, surga dunia bagi suami dan anak-anaknya. Kesibukannya dalam karir perkerjaan tak lantas membelenggunya. Tak akan menjadi alasan apapun untuk menomorduakan keluarga. Mereka tetap sebagai wanita yang bekerja, tetap wanita yang memiliki kesibukan, selain menjadi ibu rumah tangga. Tetapi kesibukannya dalam bekerja tidak menjadikannya durhaka kepada suami, dan melalaikan tugas melakoni perannya sebagai ibu rumah tangga.

Siapa bilang mudah menjadi ibu rumah tangga. Sungguh profesi itu adalah luar biasa mulia, tiada tandingannya. Gajinya berlipat ganda. Maka, dialah wanita yang akan menyandang predikat itu. Melayani suami dengan kasih, mendidik anak dengan sayang, dan merangkul semuanya tanpa mengabaikan pekerjaannya.

Bolehkan pembantu? Tentu saja. Sesuai dengan namanya. Pembantu hanya bertugas untuk membantu, bukan mengambil alih semua pekerjaan. Alangkah bangganya jika masakan yang dipuji di meja makan adalah hasil karya sang ibu. Alangkah senangnya melihat anak tumbuh dengan cerdas dan sehatnya, anak siapa? Alangkah damainya melihat suami selalu betah dirumah, selalu merindukan keceriaan dalam rumah.

Wanita tetaplah wanita. Jalankan peran sesuai dengan kodrat dan kewajiban. Jangan pernah ingin rakus mengambil alih menjadi pengatur dan kepala dalam rumah tangga. Suami tetap nomor satu, tunduk dan patuhlah padanya. Anak tetap utama, perhatikan dan rawat dengan penuh kasih sayang, berikan haknya. Dan itulah Kartini Anggun. Lincah, cerdas, bersahaja dan menyejukkan.

Sudah bukan saatnya lagi emansipasi yang salah kaprah. Emansipasi yang lembut, namun penuh makna dan karakter. Saya tetap percaya, potret wanita seperti inilah yang dicari, dan dimaksud sebagai Kartini sesungguhnya, potret  Kartini yang Anggun, yang akan membawa masa kegelapan emansipasi wanita yang salah kaprah menuju masa yang penuh dengan cahaya terang, penunjuk arah wanita yang sesuai dengan kodratnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s