Cooking, Panggilan Jiwa!!!

Posted: May 4, 2012 in Cerita-cerita, Keluarga
Tags: , , ,

Kejadian cukup tragis di dapur beberapa hari yang lalu memang sempat menyisakan beberapa efek dan kesan tersendiri. Ketika kejadian berlangsung,  sempat terlintas dalam benak saya untuk tidak mau lagi terjun di dapur, alias memasak. Mendadak hobi memasak menjadi hal yang sangat menyebalkan. Sempat terlontar ucapan tidak mau memasak. Hem, tapi ternyata itu adalah emosi sesaat ketika sakit sangat terasa. Saya sebenarnya sangat suka memasak, memotong-motong, mengiris-iris, meracik-racik, mencampur-campur bumbu. Meskipun saya tahu rasa masakan saya mungkin hanya ternilai sangat enak di mata suami. Tapi saya tetap menyukai memasak. Apalagi memiliki suami yang tidak pernah mencela makanan, selalu menghargai setiap jeri payah istri di dapur, tidak pernah menyisakan makanan apapun, sedikitpun. Alhamdulillah belajar darinya saya tidak pernah tega membuang-buang makanan yang tak habis.

Beberapa hari memang sempat off dari urusan dapur. Namun bahan-bahan masakan sudah saya siapkan di kulkas, kali aja suami ingin berkreasi di dapur. Urusan mencuci piring pun dibantu suami. Dan kebetulan sekali sempat bereksperimen dengan tetangga, meskipun saya hanya menyaksikan namun kecipratan juga masakanannya. Jatah memasak pun luntur sementara. Hehe.

Bisa saja kami membeli makan diluar, itu terkadang kami lakukan kalau terpaksa atau kepingin. Dengan alasan penghematan, keberkahan, dan juga kebersihan, kami sangat meminimalisir untuk membeli makan di luar. Kata Ayah, dengan memasak sendiri di dapur, makanan akan menjadi berkah sehingga bagaimanapun terlihat boros ketika memasak, tapi itu jauh lebih hemat dari pada membeli di luar. Saya sangat “camkan”petuah itu.

Kelemahan membeli makan di luar juga sering membuat kami gampang bosan dan kangen dengan masakan sendiri. Oleh sebab itu, saya selalu siaga dengan menyetok bahan-bahan masakan di kulkas. Suami saya yang memang sudah terbiasa dengan kesederhanaan dan kemandirian semasa digembleng di pesantren, praktis sangat membantu saya dalam urusan perdapuran. Sering membuatkan saya nasi goreng favoritnya dan juga beberapa kreasi masakan unik lainnya. Kali ini suami sangat bersedia untuk memasak sendiri di dapur, tak tega melihat tangan saya yang masih belum siap untuk diajak memasak.

Sekilas saya senang bisa libur memasak. Tapi ternyata itu semua bohong. Baru mendengar suami mau memasak, saya sudah sedih. Saya ga tega membiarkannya bergulat dengan bumbu-bumbu khas wanita itu. Apa jadinya kalau aroma dapur masih kebawa ke kantor, hehe. Saya pun akhirnya ikut terjun membantu suami. Dengan bantuan kantong plastik, saya bungkus tangan saya agar tidak sakit. Keinginan dan panggilan jiwa saya, membuat rasa sakit hilanglah sudah. Kebencian untuk memasak juga tak ada. Yang ada hanyalah ingin segera menyajikan hidangan buat sarapan suami, rasanya lega jika tugas kecil itu tertunaikan sudah.

Saya rasa, inilah yang dimaksud ibu saya. Selalu beliau berkata, perempuan itu tidak akan pernah bisa merasakan sakit, apalagi menikmati sakit. Maksudnya, dalam keadaan sakitpun, perempuan akan tetap menunaikan kewajibannya. Tak akan tega melihat rumah berantakan, tak akan bisa membiarkan suami dan anak-anaknya pergi dengan perut kosong, tak akan kuasa membiarkan suami melakukan pekerjaan rumah. Dalam sakitnya, pasti ada panggilan jiwa yang tak bisa terbantahkan. Dan memasak adalah salah satu panggilan jiwa seorang ibu rumah tangga. Memasak baginya adalah bukan sekedar tugas dan kewajiban, namun ibadah yang menyenangkan.

Semoga saya tak pernah lagi mengeluh menunaikan semuanya. Tak pernah lagi merasa jengkel kalau harus memasak dan memasak lagi. Apalagi saya dikaruniai seorang suami yang sangat hobi makan. Sehari pun kadang saya harus ke menyalakan kompor 3 kali. Kadang malas, tapi ternyata setelah saya rasakan, betapa beruntungnya saya dengan ini. Kenapa? Karena orang lain belum tentu bisa merasakan menjadi saya. Sempat tetangga curhat karena suaminya sangat kurang bernafsu makan, sering menyisakan makanan, jarang mau sarapan, bahkan lebih suka makan di luar. Sang istri akhirnya malas memasak bukan karena malas atau tak bisa, namun karena selalu mubadzir. Makanan tak pernah habis dan tak pernah enak dilihat. Dengan itu saya menjadi makin bersyukur, masih diberi kesempatan untuk melayani suami dengan mudahnya.

Thank you My Husband.

Cooking with Love!!!!

Comments
  1. diffaimajid says:

    masakan rumah lebih sehat dan higienis. hitungannya juga jadi lebih hemat🙂

  2. Ryani says:

    iya sepakat🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s