The Last Flight in My First Pregnant

Posted: May 23, 2012 in Cerita-cerita

Selasa, 8 Mei 2012. Dini hari sekita jam 3 pagi saya sudah meramaikan rumah. Persiapan keberangkatan ke Jakarta membuat saya harus melawan kantuk dan capek. Maklum tinggal berdua sama suami mau tidak mau harus mandiri urus kebutuhan berdua. Apalagi semalam habis kehujanan dari terminal Dapur, sepulang dari Surabaya. Tidak sempat sarapan apapun. Kami pun langsung meluncur ke bandara Juanda. Udara segar dan lalu lintas yang masih tertidur lelap membuat kami begitu lancarnya sampai di bandara.

Melihat jam tangan yang masih jauh dari batas check in, saya sengaja bersantai menghabiskan waktu di luar bersama suami. Ternyata salah, bapak-bapak dosen sudah menunggu di dalam. Jam tangan saya sedikit lebih lambat dibanding waktu sesungguhnya. Akhirnya saya check in mendekati limited time. Untungnya tinggal ambil boarding pas, check in sudah di handle dosen saya. Thank you pak. He he..

Btw ada untungnya buru-buru masuk ruang tunggu. Announcer sudah sibuk mengumumkan pesawat sebentar lagi diberangkatkan. Para petugas sudah sibuk memeriksa satu per satu penumpang yang masuk. Tiba-tiba seorang perempuan menghadang saya. Sebut saja namanya Bunga.

Bunga : Hamil ya mbak?

Kaget, baru sadar saya kalau tidak memakai jaket, dan baru inget pula kalau saya tidak berhasil membawa surat keterangan dokter. Awalnya saya ragu untuk perjalanan ini. Karena dokter kandungan saya kala itu sedang keluar kota, jadi saya belum sempat konsultasi apalagi meminta surat keterangan. Akhirnya saya harus memutuskan berangkat saja, dan tiket citilink untuk 8 mei pun segera dilayangkan ke saya.

Kembali menatap si Bunga. Saya juga melihat seorang perempuan yang dimintai keterangan seputar kehamilannya. Tetapi usia kandungannya lebih muda dari saya. Saya sempat mendengar batas maksimal ijin terbang yang dijelaskan perempuan itu menyebut unsur 8, pikir saya sih 8 Bulan. Jadi pikir saya santai aja menyebut 30 minggu usia kandungan saya kepada si Bunga.

Bunga : Oh berarti mbak besuk ketika pulang sudah tidak boleh naik pesawat lagi karena sudah melebihi batas maksimal ijin yang diperbolehkan bandara. (Jedar, bagaimana ga bisa naik pesawat, lha wong tiket sudah di tangan. Hehe sambil cengar cengir saya santai saja)

Saya: Lho mbak, memangnya batas maksimal berapa?

Bunga : 28 minggu.

Sambil memperhatikan si Bunga membuatkan surat keterangan dokter untuk saya, saya spontan langsung meralat ucapat saya bahwa saya salah hitung, usia kandungan saya baru 27 minggu. He he..(tentu saja sambil mengelus sayang perut saya, bercakap dengan jabang bayi bahwa ini demi kebaikan, dan berharap dia baik-baik saja dalam penerbangan ini. Bantu ibu ya nak).

Kali ini berhasil lolos, dan karena waktu sudah mepet, si Bunga langsung mempersilahkan saya masuk pesawat. Dia masih sibuk dengan surat keterangan untuk saya. Bahkan saya tidak dimintai uang sepeserpun seperti halnya mbak yang juga senasib seperti saya, harus membayar uang administrasi untuk surat keterangan dokter.

Saya cengar cengir sambil tertawa sedikit puas. Dosen saya pun mendukung keputusan saya, sedikit mengibul. Untung ini kehamilan pertama, jd perut masih belum melar. Alhamdulillah kami pun terbang dengan selamat. (My baby memang tangguh, makasih ya nak).

Ketika kepulangan, tak ada kasus serupa karena pesawat delay, bertepatan dengan jatuhnya pesawat Sukhoi super jet 100. Kami pun baru terbang sekitar jam 21:45. Alhamdulillah aman meski harus sampai lamongan jam 12 malam. Terimakasih suamiku telah menjemput dan  menunggu kepulanganku, hehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s