Sedih Ditinggal Pulang

Posted: June 9, 2012 in Cerita-cerita

@ruang tamu, Graha Indah BP1.

Sedang sendiri menikmati jus jambu, sambil menunggu suami pulang. Rumah yang tadinya ramai, penuh dengan canda tawa dan obrolan ringan, kini sepi senyap. Para tukang sudah pulang. Dan yang lebih menyedihkan lagi, ibuku juga pulang.

Hem, rasanya seperti kembali menjadi anak2 seminggu ini. Di temani ibu di rumah, membantu mengurus tukang, rasanya hampir aq lupa pernak pernik dapur. Tak diijinkan aq membantu di dapur. Alasannya masih seperti jaman kecilku dulu, malah ribet, toh ga banyak yg dilakukan di dapur.

Al hasil, bangun tidur ibu sudah sibuk di dapur. Bak akan menyiapkan anak2nya yang hendak berangkat ke sekolah. Saya dan suami langsung disambut dengan sarapan nasi goreng khas jawa seusai jalan pagi di kompleks perumahan. Hem, ibu sendiri malah malas sarapan.

sebelum tidur, ibu selalu memijatku, seperti sebelum2nya. Tengah malam selalu memeriksa tidurku, ada nyamukkah, sudah berselimutkah? Bahkan ketika aq terbangun kram, tanpa aq bangunkan, ibu langsung peka dan mengurut kakiku. Ketika sore tiba, ibu selalu segera mengobrak obrak menyuruhku mandi. Ketika waktu makan, selalu menyuruh tiada henti hingga aku makan. Aku merasa sangat hangat dan seperti anak kecil kembali.

Ibu memang seminggu menginap di rumah. Ini adalah minggu kedua tukang bekerja. Seminggu pertama yang lalu, mertua juga tidak menginjikan saya yang sedang hamil tua untuk menyiapkan makan siang tukang. Kebetulan ada tukang yang pulang pergi daerah mertua, sehingga semua sudah disiapkan mertua. Tapi minggu ini tukangnya berubah, dari daerah lain, mau gak mau ibuku bergantian stand by di rumah. Apalagi kalau aku ke kampus, praktis rumah tidak ada yang jaga.

Kini, ibu harus pulang karena ada urusan dirumah. Awalnya beliau tak tega meninggalkan aku sendiri. Beliau menawarkan diri untuk tetap tinggal, tetapi aku menolak, aku berusaha mengerti urusan ibu pula. Sadar tak bisa lagi banyak membantu ibu.

Hem, entah kenapa air mataku berlinang bak anak kecil yang ditinggal ibunya pergi. Bukan karena tak lagi dibantu ibu, tapi sepertinya aku sangat merindukan ibu. Merasa selalu membuatnya repot dan capek, padahal aku tak ingin seperti itu. Pun dengan beliau tentu saja tak pernah merasa kurepotkan.

Ahhh, ibu terimakasih atas segalanya. Maafkan atas segala kesalahan dan khilaf anakmu.

With love…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s