Lahirnya Duo Cancer

Posted: July 3, 2012 in Putri Kecilku

Biasanya kata orang-orang, menunggu kelahiran sang buah hati adalah saat-saat yang mendebarkan. Beberapa kawan bilang, mereka biasanya deg-degan campur takut, cemas, was-was, dan lain sebagainya ketika mendekati hari persalinan. Hal ini dirasakan bagi mereka yang masih newbe alias pertama kali mengalami. Saya, adalah salah satunya. Kali ini saya yang mendapat giliran mengalaminya. Dan lengkaplah sudah saya menjadi seorang wanita karena kehadiran sang buah hati, buah dari pernikahan kami pada 4 september 2012 lalu.

Bagaimana detik-detik saat saya akan melahirkan? Awalnya biasa saja. Ketika terakhir periksa ke dokter, usia kandungan masih 36 minggu. Dan HPL dari dokter adalah 8 atau 13 juli. hitungan ini berdasar menstruasi terakhir saya tanggal 1 sd 6 oktober 2011 silam.

Saya pun melakoni aktifitas seperti biasa. Tanggal 26 Juni saya masih menikmati rutinitas di depan laptop. Bergulat dengan projek yang baru saja saya terima. Untungnya kegiatan perkuliahan sudah selesai sejak 22 Juni. Namun saya tidak membatasi diri untuk pergi jauh. Masih ada rencana menemani suami bimbingan Thesis juga.

Namun malam itu, 26 juni terasa sangat panjang. Hingga jam 12an malam saya masih terjaga. Lalu tidur sejenak dan seperti biasa selalu terbangun jam 2 dini hari. Saya merasakan mules dan rasa ingin ke belakang. Saya sudah berkali-kali ke belakang namun hanya berhasil buang air kecil.

Ibu yang kebetulan masih menginap di rumah, curiga saya ‘sawanen’ (baca: kaget) karena siangnya saya makan Bengkuang sangat banyak, sebelumnya tidak pernah. Suami pun terjaga dan masih menjumpai saya mules. Pengen buang air besar. Suami memeluk dan mencium kening saya seraya mengucapkan selamat ulang tahun yang ke 25. Saya hampir lupa dan tidak peduli kalau ternyata detik itu sudah 27 Juni, tanggal saya terlahir ke dunia ini 25 tahun yang lalu, jam 3 dini hari.

Hem, suami sempat mengalihkan perhatian dengan mengajak saya mencari sarapan dini hari. Namun saya masih konsen dengan mules yang lama-lama muncul secara kontinyu. Saya ambil air wudhu dan masih ada waktu sholat hajat. 2 rakaat saja karena perut saya semakin mules. Saya mohon pada Alloh segera dimudahkan dari rasa sakit ini. Berdoa jika sewaktu-waktu melahirkan nanti dapat berjalan lancar, normal dan jauh dari rasa sakit.

Akhirnya seuasi shubuh lega lah saya dapat buang air besar. Saya pikir mules sudah berakhir dan ingin rasanya saya tidur kembali. Ngantuk sangat.Ibu menyuruh suami segera membawa saya ke bidan untuk periksa biasa. Saya pun masih sempat mandi, khawatir nanti jika akan melahirkan hari itu juga. Di mobil, perut mules semakin sering, berasa ada yang menggerutu ingin keluar. Sampai di bidan, ternyata saya sudah mengalami pembukaan 1. Saya kaget, kenapa dia mau lahir sekarang? Saya lihat perhitungan hari jawa. Rabu Pahing, namun saya sungguh lupa berapa jumlah neptunya. Dalam hati, saya khawatir jika hari itu kurang baik bagi perhitungan jawa. Saya masih senang dengan main hitung-hitungan itu. He he.. Meskipun tidak ada arti khusus, namun saya masih percaya saja akan adanya hari spektakuler di Jawa.

Bidan menyuruh saya tetap tinggal. Sekilas bidan memberikan pengetahuan seputar pra persalinan. Jika hingga pembukaan 4 kontraksi berhenti,berarti tidak jadi melahirkan. Saya ditempatkan di ruang istirahat. Suami pulang mengambil perlengkapan. Saya tidak nafsu sarapan, rasanya sudah lemas dengan kontraksi. Semakin lama kok semakin cepat jedahnya. Saya terus menyebut asmaNya dan tetap dengan Hp, sms an he he. Bidan memprediksi berdasarkan teori, saya akan melahirkan jam 3 sore. Mendangar itu, hati saya menolak. Saya hanya berdoa dan optimis jika hari ini saya ditakdirkan melahirkan, maka mudahkanlah jangan sampai jam 3 sore. Mertua pun datang dan memberi semangat. Kemudian disusul dengan ortu saya.

Hem, menjalani persalinan di rumah Bidan memang sudah menjadi rencana saya dan keluarga. Di sana saya dapat melahirkan dengan privat dan nyaman serta pelayanan yang memuaskan. Saya semakin tenang dengan kehadiran suami, lengkap dengan bapak ibu saya. Saya yakin mereka tidak akan membiarkan saya sakit berlama-lama. Saya tahu betul bapak saya. Jam 10 ternyata sudah pembukaan 7. Saya segera dipindahkan ke kamar bersalin. Di sanalah saya berjuang, mengejan sekuat tenaga. Dan alhamdulillah putri kecilku, malaikat penyejuk hatiku, lahir dengan normal dan tangis yang begitu melengking. Tepat pada 11.15 WIB, dengan berat 2.9 kg dan tinggi 50cm. Rambutnya begitu lebat dan paras muka seperti potokopi sang ayah. Subhanalloh alhamdulillah allohuakbar. Suami langsung sujud syukur, mengadzani, dan mengkhomati dedek bayi. Selamat datang putri kecilku, penyempurna kodratku. Akhirnya kita menjadi Duo Cancer. I love u.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s