Anak atau Kuliah

Posted: November 22, 2012 in Putri Kecilku

Jika seorang ibu harus memilih. Dihadapkan pada dua kenyataan yang memang tidak sulit namun sama-sama penting. Saya adalah seorang ibu yang berstatus mahasiswa pasca sarjana. Melihat kenyataan yang ada, saat ini seorang ibu sedang gencar-gencarnya berlomba menjadi ibu yang hebat. Memberikan ASI ekslusif untuk sang buat hati di tengah-tengah kesibukannya.

Mungkin saya adalah termasuk salah satunya. Saya juga ingin menjadi ibu yang hebat untuk putri kecil saya. Dengan segala keterbatasan dan kondisi yang saya miliki, sesjujurnya saya ingin semua yang menjadi tanggung jawab saya ter-cover dengan baik. Namun tidak selamanya keinginan itu berjalan indah.

Beberapa hari yang lalu, saya harus menjalani perkuliahan di kampus. Saat itu bisa dikatakan sebagai pertemuan penting pada mata kuliah yang sedang saya ambil. Di hari yang sama, di detik keberangkatan saya menuju kampus, Bilqis (putri kecilku) tampak begitu berbeda dari biasanya. Dia agak rewel dan sering menangis. Digendong pun malah menangis. Ditaruh juga menangis. Diberi ASIP melalui dot juga ditolak. Serba tidak seperti biasa. Keaktifannya juga berkurang. Sepertinya putriku sedang merasakan sedikit sakit pada badannya. Analisisku, mungkin karena sering kali tengkurap membuatnya sedikit terkilir di bagian lehernya. Atau karena akan naik tingkat sehingga sedikit rewel.

Tak tega saya melihatnya menangis melas seperti itu. Hasrat ingin meninggalkannya luntur seketika. Saya jelas memilih anak saya dibanding berangkan ke kampus saat itu. Benar-benar sedih dan tidak bisa membiarkannya melalui hari itu tanpa saya. Akhirnya saya memutuskan untuk tinggal di rumah saja hari itu. Sata pijat sang buah hati dengan lembut dan hangat. Dia tampak begitu menikmati, begitupun saya. Saya sangat menikmati peran itu, begitu dekat, begitu nyata. Ku tatap wajahnya betapa dia sangat membutuhkan saya. Tak kuasa meninggalkannya.

Dear, seharusnya saya tidak boleh mengorbankan salah satu untuk satu lainnya. Namun ketika kenyataan memaksa saya harus memilih, di situlah saya berusaha berbuat bijak. Mengambil keputusan dengan bijak. Dan semoga itulah yang terbaik. Ternyata menjadi seorang ibu adalah luar biasa. Tidak dapat dilukiskan dengan apapun. Di sanalah naluri dimainkan. Seorang ayah pun bahkan tidak bisa melakukan hal yang sama.

Dear, mohon doanya ya semoga semua ini akan berlalu dengan hebat. Dan semoga kesabaran akan menjadi teman sehari-hari kami.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s