Menyusui, Pasti Bisa!

Posted: December 1, 2012 in Putri Kecilku

Menyusui itu adalah sebuah anugerah. Tidak jarang ibu-ibu yang pasca melahirkan tidak bisa atau bahkan tidak mau menyusui buah hati yang baru saja dilahirkannya. Banyak faktor yang menjadi penyebabnya. Yang pasti adalah satu, tidak ada seorang ibu yang tidak mungkin tidak dapat menyusui. Banyak banget kata “tidak”nya, hehe bingung ya?

Begini lho bunda maksudnya. Jadi pada hakikatnya, menurut saya seorang ibu itu sudah ditakdirkan untuk menyandang predikat 3M (mengandung, melahirkan, dan menyusui). 3 hal itu adalah paket dari Alloh yang tidak dapat dipisahkan. Jadi jangan khawatir para bunda. Yang melahirkan pasti akan diberi kemampuan untuk menyusui. Percayalah, itu adalah nyata dan otomatis.

Namun pada kenyataannya, ada beberapa ibu yang sengaja memutuskan untuk menolak menyusui. Mungkin karena alasan capek, ribet, mengubah bentuk tubuh, atau bahkan alasan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Bagi yang menyodorkan alasan pekerjaan sebagai penghalang menyusui, sekarang sudah ada solusinya yaitu ASIP (ASI Perah). Jadi para ibu cukup meluangkan sedikit waktu untuk memerah ASI. Nah, sedangkan bagi para ibu yang menyodorkan alasan capek, ribet atau alasan tidak penting lainnya segeralah menyadari bahwa itu adalah salah. Perbanyak referensi tentang faedah dan keuntungan menyusui. Dan yang terakhir bagi yang merasa ASI nya tidak cukup lagi padalah masih dalam masa menyusui, percayalah itu hanya sugesti. Berdasarkan referensi yang saya peroleh, dan berdasarkan pengalaman yang saya lakoni saat ini, dan juga berdasarkan hasil sharing dengan teman-teman yang berstatus ibu menyusui, bahwasanya tidak ada ASI yang tidak cukup.

Produksi ASI adalah setara dengan kebutuhan bayi akan ASI. Berapa banyak ASI yang diberikan kepada bayi, ya sejumlah itu pula ASI yang akan kembali diproduksi. Jadi kuantitas ASI berbading lurus dengan kuantitas menyusui dan memerah. Semakin sering diberikan kepada bayi, dan semakin sering diperah untuk dijadikan ASIP, maka semakin banyak pula lah ASI yang akan kembali diproduksi.

Pada awalnya saya juga mengalami keraguan, apakah ASI yang saya miliki mampu mencukupi kebutuhan bayi saya. Saya cukup yakin saja bahwa Alloh telah menciptakan ASI khusus untuk bayi selama 2 tahun. Sejak saat itu saya semakin rajin menyusui dan juga memerah. Tidak bisa lagi diganggu gugat atau ditunda. Jam menyusui adalah seirama dan senada dengan jam bayi lapar. Ketika bayi haus atau lapar, maka denyut ASI akan sangat terasa. Dan jika seorang ibu menunda untuk menyusui maka dengan sendirinya ASI akan keluar. Oleh sebab itu, saya sangat yakin dan tahu pasti detik dimana bayi saya terbangun karena haus atau lapar. Subhanalloh, memang Alloh telah mengatur hal ini sedemikian rupa sehingga seorang ibu memang wajib menyusui buah hatinya selama 2 tahun.

Bagi ibu yang tidak mau menyusui, hal tersebut di atas lama-lama akan hilang. Sehingga menurut saya kedekatan seorang ibu dan anak juga akan berkurang. Karena melalui ASI lah salah satu jalinan kasih dan perasaan antara seorang ibu dan anak dibangun.

Beberapa ibu juga mengeluh, jumlah ASInya tidak sebanyak ibu-ibu yang bayinya tidak pernah diberikan susu formula ketika lahir. Hal ini juga sangat menyedihkan. Faktanya adalah bebera ibu yang menjalani persalinan di rumah bidan atau rumah sakit yang tidak pro ASI, pada saat pasca melahirkan, biasanya bayi diberikan susu formula. Alasannya adalah menunggu sampai ASI sang ibu keluar. Padahal kebutuhan bayi yang baru lahir terhadap asi adalah sangat sedikit, yaitu cuma satu atau dua tetes saja. Dan tetes tetes tersebut sudah dihasilkan oleh sang ibu yaitu berupa kolostrum, cairan kuning yang mengandung zat kekebalan tubuh. Bagi para ibu, dianjurkan untuk sangat memahami hal ini, jadi ketika bayi anda akan diberikan susu formula, tolaklah dengan keras. Betapa mirisnya jika para dokter, bidan, dan perawat tidak mendukung gerakan satu tetes kolostrum ini.

Dampaknya adalah bayi akan semakin sulit untuk segera pintar menyusu kepada ibu. Meraka akan bingung puting dan tidak sabar menunggu ASI keluar dengan deras. Puting palsu alis DOT yang digunakan untuk memberikan susus formula kepada bayi dirasa bayi lebih enak dan lebih cepat untuk mengkonsumsi susu. Yang lebih tragis lagi adalah keluarga yang tidak sabar melihat bayi menangis kehausan karena bingung akan puting ibu. Hasilnya, susu formula akan terus dijadikan solusi. Lambat laun produksi ASI bunda tidak semakin banyak, malah semakin sedikit.

Inilah yang saat ini sering menjadi alasan para ibu untuk tetap tergantung pada sokongan asupan susu formula sebagai pendamping ASI padahal bayi masih berada pada masa ASI Ekslusif. Mari kita kampanyekan gerakan ibu menyusui demi kecerdasan anak bangsa.

 

Comments
  1. AMS Rahman says:

    congratulation. smangat menyusui untuk generasi cerdas indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s