Jodoh di Tangan Siapa? (An Nur : 26 Vs Mario Teguh)

Posted: February 16, 2011 in Nikah

13 Februari 2011.

Hal yang selalu menarik untuk disimak. Topik yang selalu highlight untuk diikuti. Membuat seseorang ingin segera pulang dan bersama menyaksikan arugmen-argumen seru tentangnya. Tidak menghiraukan tukang nasi goreng, bakso kecamatan, terang bulan, martabak, yang serasa menghentikan laju mobilnya untuk sekedar bilang “bang, bungkus nasi goreng dua ya”, “pak, bakso satu bungkus spesial” atau terang bulan dan martabak telur dua bungkus ya pak”. Lewat, semuanya lewat hanya demi mengejar satu topik seru yang tentang Jodoh. Hehehe…Dan ternyata ketika sampai, tibalah acaranya sudah buyar…Bakso tak dapat, nasi goreng ga ngikut, apalagi martabak dan terang bulan. Tapi satu hal yang tidak terlewatkan, ceritaku…Iya, ceritaku pasti lebih seruh dari pada Pak Mario Teguh…Hehe..

Hem… perihal jodoh. Terutama bagi insan yang sudah sangat serius memikirkan masalah pernikahan dan pendamping hidup yang “pas”, pasti akan sangat mudah mengikuti satu trending topic ini. Entah suatu kebetulan, atau kesengajaan tanpa perencanaan, tapi yang jelas kali ini pak Mario berhasil mengalihkan perhatian saya dari Laptop untuk menengok dan akhirnya duduk nyaman di ruang TV.

Jodoh, Jodoh, Jodoh, di tangan siapa?

Cerita versi saya, beberapa quote dari Pak Mario dan beberapa referensi lain. Kurang lebihnya beginilah kemasannya.

Upayakan. Ya, harus diupayakan. Jodoh itu harus diupayakan kehadirannya. Apapun bentuknya, yang pasti harus ada upaya untuk menjemputnya. Banyak hal yang bisa dikatakan sebagai upaya.

Ada pertanyaan yang di lontarkan pak Mario kepada audience. Diantara 3 orang ini, manakah yang anda pilih untuk dijadikan sebagai pendamping hidup Anda?

–          Orang kaya raya yang tidak Anda kenal sama sekali.

–          Pacar Anda yang sudah bertahun-tahun menemani Anda, tetapi masih sial.

–          Orang yang sudah tua, kaya raya, tetapi sangat mencintai Anda.

Silahkan dipilih-dipilih. Nah lho kayak jualan saja. Hehe. Yang pasti setiap orang memiliki pertimbangan sendiri kenapa memilih si A atau si B sebagai pendamping hidupnya untuk dinobatkan dalam sebuah ikatan pernikahan yang hanya sekali seumur hidup itu. Nikah, Nikah, Nikah. Ngomong-ngomong soal nikah, ada statement yang menggelitik dan pas banget.

“Orang yang’ kebelet’ nikah, tidak bisa lagi dinasehati (Mario Teguh). “

Hingga orang tua sudah tidak bisa lagi menasehati anaknya, atau bahkan sanga anak bilang, orang tua tidak usah ikut campur. Nah lho, seolah-olah perasaannya tidak lagi mampu terbendung, maunya cuman nikah, cepat, dan secepatnya saja. Ketika jatuh cinta, semuanya terlihat begitu indah, begitu menyenangkan, dan selayaknya orang yang takut dosa, memang nikah adalah jalan yang terbaik untuk menghalalkan perasaaan indah itu. Saking indahnya setiap persaaan yang muncul, tidak jarang mengalahkan logika. Tidak bisa lagi memandang bagaimana calon pendamping hidupnya. Tidak lagi mampu menilai mana yang pas dan kurang pas. Tapi itulah perasaan. Datang tidak diundang, dan berkobar dengan sendirinya. Semua bisa dikontrol sebenarnya, namun tidak untuk dimusnahkan.

Logika cinta, mungkin itu yang harusnya ada. Logika cinta tidak akan sama dengan logika matematika, fisika, atau logika seorang programer (if else nya sudah jauh berbeda), jika dituliskan tidak akan menjadi sebuah program yang sukses running, namun dengan logika cinta semuanya akan berjalan tanpa eror. Trust Me, Its Work!!!

Ketika sebelum menikah, semuanya bisa dikatakan “ooooohhh….!!”, ooh bisa masak, oooh pinter. Namun ketika pasca nikah, ternyata intonasi berubah menjadi “eeeeee….”. Ealah, kok gini, kok gitu… Ups, ini paradigma yang harus diubah menurut saya. Jadikan semua yang tampak bagus di awal, lebih bagus di belakang. Buatlah gradian dari kiri bawah ke kanan atas. Tingkatkan terus kualitas hubungan sebelum dan sesudah nikah. Harus semakin meningkat. Jadikan “ooooohhh …. “ menjadi “woooooooohhh..”. Lebih memukau. Lebih indah dan lebih seru pada waktunya yang halal.

Oleh sebab itu, pak Mario sempat mengkhawatirkan semua yang dipelajari ketika sedang jatuh cinta adalah tidak akan masuk dengan logika.

“Belajarlah ilmu nikah untuk kebaikan hidupmu, sebelum Anda jatuh cinta agar dapat berfikir logis.”

Bisa jadi benar bisa jadi kurang tepat. Karena terkadang dengan belajar pada saat jatuh cinta, semua begitu mudah dicerna, mudah dimengerti, dan sangat bisa dilogika, dengan logika cinta. Wkwkwkwk.

Kepantasan. Faktor kepantasan ini penting. Jangan egois, jangan minder, percayalah pada diri yang utuh, dan dapatkan pasangan Anda adalah yang pas dan terbaik buat Anda.

Ada dua doa yang disampaikan oleh Pak Mario Teguh, yang kurang lebihnya adalah seperti ini.

–          Ya Tuhan, berikanlah jodoh yang terbaik, kaya, pintar, lancar rejekinya, cakep, bla bla bla….sehingga akan menjadikan masa depan saya lebih baik…

–          Ya Tuhan, lancarkanlah rejeki saya, jagalah diri ini, bla bla bla, sehingga dapat kupersembahkan untuk belahan jiwa…

Doa pertama adalah doa orang egois yang tanpa melihat bagaimana dirinya sendiri. Tanpa bercermin melihat bagaimana kelebihan dan kekurangannya. Dan berharap pasangannya adalah yang terbaik untuk dirinya. Doa kedua adalah doa seorang yang tahu akan dirinya. Diperbaiki dirinya, disiapkan dirinya, dipantaskan dirinya, untuk belahan jiwa yang sudah disipakan Alloh.

“Orang yang baik, pasti akan mendapatkan yang baik pula”. Jika anda khawatir perihal rejeki, berfikirlah bahwa karakter yang baik itu sudah rejeki.”

Teori kepantasan ini sebenarnya juga sudah tercantum jelas pada QS. An Nur : 26.

اَلْخـَبِيـْثــاَتُ لِلْخَبِيْثـِيْنَ وَ اْلخَبِيْثُــوْنَ لِلْخَبِيْثاَتِ وَ الطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِيْنَ وَ الطَّيِّبُوْنَ لِلطَّيِّبَاتِ

“ Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang .baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik. (Qs. An Nur:26).

Ayat ini masih ada kelanjutannya, yang seringnya tidak diikutsertakan dalam banyak pembahasan.

Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga).

Banyak penafsiran perihal ayat tersebut di atas. Salah satunya adalah bisa dibaca di sini

Namun pemahaman saya singkatnya begini. Alloh tidak memberikan hukum otomatis bahwa laki-laki yang baik, defaultnya pasti mendapatkan wanita yang baik. Namun lebih cenderung kepada upaya dan usaha. Bagaimana kita mengupayakan diri kita agar menjadi pribadi dengan karakter yang baik, lalu bagaimana kita mengusahakan untuk dekat dengan orang yang baik. Kebaikan yang kita upayakan untuk diri kita sendiri, kelak akan berbuah dengan seseorang yang juga di luar sana sudah mempersiapkan dirinya sebaik mungkin, menjaga dirinya, untuk pada akhirnya dipertemukan dengan orang yang “se-kufu” dengannya.

Dan satu hal penting yang sangat perlu digarisbawahi, yaitu parameter baik. Yang tahu apakah diri ini sudah baik atau belum, bukanlah kita sebagai jurinya. Hanya Alloh juri mutlak yang keputusannya sudah tidak bisa diganggu gugat dan diragukan. Dia lah yang akan menilai apakah kita sudah baik atau belum. Dialah yang akan memantaskan kebaikan diri kita dengan kebaikan pendamping hidup kita. Maka dari itu, kita bukanlah peramal yang mampu menerawang siapakah jodoh kita, siapakah orang yang baik itu, sehingga jalan yang paling mungkin adalah perbaiki diri sendiri untuk menjemput jodoh yang baik yang sudah dipersiapkan itu. Jodohmu, jodohku, pasti tidak akan tertukar. Trust it!!

“Manusia Memilih, Tuhan menyetujui.”

Tuhanlah yang menyetujui. Tapi apakah Tuhan selalu menyetujui meskipun pilihan Anda itu buruk? Jawabannya TIDAK. Manusia memang yang memilih. Tahukah bahwa pilihan Anda itu yang terbaik diantara yang terbaik? Tidak, Anda tidak tahu karena kebaikan bukan sebatas mata memandang. Kebaikan bukan yang kasat mata, kebaikan adalah sesuatu yang abstrak dan konkrit sekaligus. Maka, pasrahkanlah pilihan Anda, dekatkan, serahkan semua kepada sang Pemilik Keputusan Mutlak, Alloh S.W.T.

Bagi para pejuang cinta, selamat berjuang demi mewujudkan pernikahan bersama jodoh terbaik!!!

Comments
  1. vee says:

    br td pagi ngebahas ini sm dia..sayangny kita beda pendapat sampe ribut. hehe
    saya g bs ngejelasin smpe sedetail ini.
    bagus..🙂

  2. vee says:

    slm kenal jg mba🙂
    klo sy seh suka sm penjelasanny..pas g kurang g jg lebih, krn sy termasuk sisi yg sependapat dgn pak MT ini jg.
    yups..justru berbeda itu bkn indah

  3. ardin says:

    mmperbaiki diri,mmpersiapkan diri,memantaskan diri untuk belahan jiwa yg sdh d siapkan allah swt untk kita ..
    I like this ..

  4. […] Posts Jodoh di Tangan Siapa? (An Nur : 26 Vs Mario Teguh)Dan Itulah Yang Paling Berharga dari Seorang PerempuanSebelum Menikah, perlu Belajar P3K.Cowok […]

  5. @zput says:

    numpang baca ya mba, wah keren bgt ini tulisannya. kl toefl ITP mba ambil di mana ya

    • Ryani says:

      iya silahkan dibaca, semoga bermanfaat. hem, tulisan ini apa hubungannya sama toefl ya? hehe, tp gpp, karena saya tahu, sya jawab. saya dua kali ITP di IIEF jakarta, tp next time mau coba di TBI (The British Institute)

  6. Eka says:

    Makasih ya Ruktin atas penjelasnnya..Aq baru buka blogmu. Bagus.
    Sukses Selalu ya….

  7. siiip…betul…cara hematnya..semua adalah kembali pada diri kita sendiri…apa yang kita terima adalah tergantung apa yang kita lakukan dan berikan….so menghargai diri sendiri…

  8. indah says:

    Semo9a Q dapat yan9 pas dan yan9 terbaik…..hehehehee amien

  9. “Manusia Memilih, Tuhan menyetujui.”
    kalimat ini sangat benar menurut saya.. tidak ada daun jatuh kebumi kecuali atas persetujuan Allah.. seandainya kita mendapatkan jodoh yang dibawah dari seharusnya juga karena Allah menyetujui.. karena itu permintaan manusianya.. tidak ada di dunia ini yang tanpa persetujuan Allah..

    bpk mario teguh itu ngerti agama lhoo…hehehe

  10. mb. yg punya blog, mksih..bgt tulisane, walaupun saya hanya membaca sepintas, tapi itu bagaikan cubitan bagi saya terutama pada bab kepantasan diri,” Ex::::Ya Tuhan, lancarkanlah rejeki saya, jagalah diri ini, bla bla bla, sehingga dapat kupersembahkan untuk belahan jiwa…
    Ternyata kepantasan diri itulah sebuah cermin kita

  11. miphz says:

    “Tuhanlah yang menyetujui. Tapi apakah Tuhan selalu
    menyetujui meskipun pilihan Anda itu buruk? Jawabannya TIDAK. Manusia memang yang memilih.
    Tahukah bahwa pilihan Anda itu yang terbaik diantara
    yang terbaik? Tidak, Anda tidak tahu karena kebaikan
    bukan sebatas mata memandang. Kebaikan bukan yang
    kasat mata, kebaikan adalah sesuatu yang abstrak dan
    konkrit sekaligus. Maka, pasrahkanlah pilihan Anda,
    dekatkan, serahkan semua kepada sang Pemilik
    Keputusan Mutlak, Alloh S.W.T.”

    Jodoh kita sebenarnya ditetapkan atau disetujui ya? Benar ga kalau jodoh kita sudah ditetapkan, tapi ada proses yg harus melalui persetujuan Nya?

    Baik buruk pilihan menurut Nya, kita gak tau, tapi sebelum menyerahkan pilihan ke Allah (fase bersyukur), parameter pilihan kita apa ya? Karena kadang ada saja benturan pendapat di keluarga, tentang ukuran kepantasan jodoh -_-

    Trims sebelumnya.

  12. sonny says:

    semuanya saya mau curhat donk< usia saya 21thn setiap berkenalan dengan cewek, saya menyebut saya anak yatim & penjaga toko serta tdk bisa menyetir tiba2 mereka langsung cuek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s